Dunia Islam hari ini sedang berada di persimpangan jalan. Di tengah gempuran krisis identitas dan fragmentasi pemikiran, umat tidak lagi sekadar membutuhkan retorika manis di atas mimbar. Kita membutuhkan langkah konkret, sebuah gerakan yang dalam bahasa spiritual disebut sebagai tansiqul-qalbi—penyatuan hati.
Inilah semangat yang tertangkap dalam sosialisasi Perhimpunan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) Dunia yang berlangsung pada Senin, 19 Januari 2026, di Jakarta Selatan. Pertemuan yang dipimpin oleh Ustadz Budi Sartomo ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan manifestasi dari amanah besar yang telah diletakkan sejak tahun 2016.
Soliditas Lokal sebagai Syarat Mutlak Globalitas
Menarik untuk mencermati catatan Ustadz Drs. Hasan Basri Rahman. Beliau memberikan perspektif yang membumi: bahwa visi global yang megah harus memiliki “jangkar” yang kuat di tingkat lokal. Strategi AHWA bukanlah gerakan elit yang eksklusif, melainkan sebuah ikhtiar yang memulai sinkronisasi visi dari bawah agar bangunan ukhuwah di tingkat dunia tidak keropos.
Pesan beliau jelas: persatuan global hanya bisa dicapai jika ulama di tingkat basis sudah berada dalam satu barisan pandangan yang sama. Inilah fondasi bagi struktur AHWA yang kokoh.
“Kapal” Penyelamat Ukhuwah Global
Di sisi lain, perspektif menarik datang dari Ustadz Ahmad Kainama. Beliau menganalogikan Ahlul Halli Wal Aqdi sebagai sebuah “Kapal (al-Fulk)”. Ini bukan sekadar organisasi tempat berkumpul, melainkan instrumen strategis untuk penguatan ukhuwah internasional.
Rencana kehadiran beliau sebagai narasumber dalam Mudzakarah ke-9 dengan tema “Millah Ibrahim atas Pewarisan Ahli Kitab” memberikan angin segar. Di tengah derasnya arus pluralisme yang terkadang mengaburkan batas akidah, penegasan bahwa Islam adalah satu-satunya Ad-Dien yang diridhai Allah (QS. Ali Imran: 19) menjadi harga mati yang harus dipahami oleh para ulama dan intelektual.
Menuju Dzulhijjah 1447 H: Sebuah Harapan
Mudzakarah Perhimpunan Ahlul Halli Wal Aqdi Dunia Ke-9 yang direncanakan pada bulan Dzulhijjah mendatang bukan hanya sebuah perhelatan akbar. Ini adalah ujian bagi kita semua: sejauh mana para ulama, zu’ama, dan intelektual Muslim mampu memberikan pencerahan kepada dunia mengenai jati diri Islam yang sebenarnya.
Momentum di Villa Delima kemarin telah menyalakan api kecil. Tugas kita sekarang adalah memastikan api tersebut tetap menyala hingga menjadi obor besar yang menerangi jalan bagi persatuan umat di panggung dunia.









