Muhammad Bardan Kindarto
(Yogyakarta, 11 Syawal 1355 H – Palembang, 7 Shafar 1438 H)
Dasar utama dari Al Qur-an
Perjalanan dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial adalah sunatullah. Sehingga, disadari atau tidak, Allah telah memberi perbekalan dari lahir berupa refleksi yang setiap saat ada pengaruh kepada keadaan lingkungan sekitarnya, yaitu simbiosis mutualisme dan mutual service. Secara manusiawi, setiap diri seseorang telah disempurnakan Allah dengan berbagai kemampuan, yaitu kemampuan mengenal dengan pancaindra (mudrik), kemampuan menggerakkan tubuh (muharik), dan kemampuan berdaya-guna bagi kepentingan masyarakat dan generasi (muatsir). Berkenaan dengan hal itu, Allah menetapkan melalui firman-Nya dalam Al-Quran surah Al-Anbiya, 21 : 105-107.
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٧ اِنَّ فِيْ هٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوْمٍ عٰبِدِيْنَۗ ١٠٦ وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ ١٠٥
“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shalih.” (105). “Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah).” (106). “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (107).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Al-Quran itu mutlak sebagai pedoman dalam melaksanakan dimensi-dimensi pengabdian. Karena pada dasarnya manusia itu tidak berkeberadaan sama sekali, lalu Allah perintahkan utusan-Nya sebagai pembawa Risalah-Nya untuk menyampaikan kabar gembira dan ancaman-Nya, kemudian utusan tersebut memandukan segala aturan-Nya dalam menempati dimensi-dimensi pengabdian. Artinya, bagi hamba Allah yang beriman berkewajiban untuk mengelar Al-Quran atas umat manusia secara keseluruhan dalam rangka mendidik, mengajar berbagai ilmu tersebut ke dalam ilmu terapan, sehingga umat manusia akan memperoleh berbagai pengembangan dalam kehidupan ini tanpa harus berhadapan dengan kekuatan alam yang dahsyat, sebagaimana difirmankan-Nya dalam surah Al-Maidah, 5 : 66, yaitu :
وَلَوْ اَنَّهُمْ اَقَامُوا التَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ مِّنْ رَّبِّهِمْ لَاَكَلُوْا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ اَرْجُلِهِمْۗ مِنْهُمْ اُمَّةٌ مُّقْتَصِدَةٌۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ سَاۤءَ مَا يَعْمَلُوْنَࣖ ٦٦
“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Rabbnya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.” (66).
Ayat tersebut merupakan bukti bahwa sedikit sekali mereka yang termasuk dalam wilayah “sabiq bil khoirot” (QS Fathir, 35 : 32). Kenyataannya dalam kalangan mereka yang beriman kebanyakan tidak bernyali untuk menegakkan hukum Allah di tengah masyarakat yang serba plural atau disebut Islam moderat. Sedangkan golongan terbesar adalah orang-orang yang tidak beriman yang hanya mengandalkan logika dan tidak pernah mau tahu terhadap akhirat, mereka itu disebut kaum Hedonisme dan Logika (QS Ad-Dahr, 76 : 27). Maka betapa penting keberadaan program pendidikan melalui kepesantrenan dalam skala internasional dan mendunia.
Pandangan Pola Pendidikan Pesantren Berskala Mendunia
Dengan tanpa mengabaikan tentang kenyataan, bahwa pandangan terhadap lingkungan akan terbagi menjadi dua skala, yaitu nasional dan internasional. Karena sebagai tapakan awal Lembaga Pendidikan dan Keilmuan dalam pesantren-pesantren Islam yang masih lumpuh, dan ini juga termasuk lembaga pendidikan umum, harus diupayakan untuk menjawab berbagai perkembangan dan tantangan serta tuntutan-tuntutannya. Maka diperlukan sumber daya manusia yang memang benar-benar handal dalam menghadapai berbagai masalah tersebut.
Dalam hal ini sebagian umat Islam masih menelantarkan pujian-pujian dalam Al Qur-an, disebabkan dari Da’inya yang masih kurang peka terhadap keadaan. Karena cara pemahaman mereka terhadap Al Qur-an hanya sebatas tekstual. Oleh karenanya penting memahami profil Lembaga Pendidikan Pesantren berskala Internasional :
A. Dalam upaya mempunyai sasaran yang jelas, yaitu agar misi yang diemban harus terkait erat dengan kenyataan perkembangan keadaan masyarakat secara nasional dan internasional. Sebagai langkah awal dari metode ramuannya, dapat memanfaatkan “perilaku yang terkandung dalam Pancasila” dalam kepentingan memajukan dan memunculkan ide-ide panduan. Ini membutuhkan penjelasan yang bersifat khusus, karena apapun keadaannya, hal tersebut merupakan produk dan peninggalan umat Islam. Proses dimaksud sangat berkaitan erat dengan peristiwa Perjanjian Udaibiah dan pengerahan oleh Rasulullah saw dalam menghadapi Tabuk sebagai pra-perjalanan menuju Futuh Makkatul Mukarramah.
B. Dalam kenyataan kondisi sumber daya umat secara nasional ternyata mengalami keterbelakangan ganda, yaitu keterbelakangan dalam konteks bangsa dan global. Hal ini akan berakibat fatal manakala gong AFTA dipukul pada tahun 2020, yaitu suatu keadaan yang dapat memarjinalkan bangsa Indonesia sebagai akibat liberalisasi ekonomi di Asia Pasifik. Menghadapi hal demikian, selama dipaham secara logika, maka tidak ada jalan lain kecuali dibutuhkan kemampuan daya saing dalam percaturan global tersebut. Maka akan mencapai hasil yang relatif sangat kecil jika dihubungkan dengan kenyataan, yaitu berupa peningkatan berbagai kasus yang disengaja oleh bangsa-bangsa barat yang bertujuan untuk mengadakan tekanan-tekanan terhadap upaya-upaya pengembangan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia. Akan tetapi, bila ditelaah secara seksama berdasarkan petunjuk Al Qur-an, maka jalan untuk mengatasi kondisi tersebut adalah harus melaksanakan suatu pembinaan sumber daya manusianya, yang meliputi aspek keulamaan, aspek intelektual, aspek pengembangan, dan aspek manajemen organisatoris.
C. Muslim adalah sebagai subjek, berarti manusia sebagai sasaran utama dalam kaitannya dengan masalah tujuan pendidikan tersebut dibangun, sehingga akan memberi nilai tambah insani dalam makna hubungan antarbangsa di dunia. Sedangkan masalah ekonomi dan teknologi itu sekedar bertujuan untuk mengantarkan kepada kenyataan yang bersifat Islami.
Dari penjelasan tersebut, maka akan memberikan makna terhadap definisi Pendidikan Skala Internasional itu sendiri, yaitu upaya menanamkan, menumbuhkan, menyuburkan, dan mengembangkan makna pengabdian tiga dimensi secara proporsional. Dengan definisi tersebut berarti pendidikan menuntut kemampuan dalam mengantasipasi berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat di berbagai bangsa termasuk masalah peradaban.
Dalam pembeberannya, masalah pendidikan yang berskala internasional tersebut harus mempersiapkan diri dalam menghadapi beberapa tantangan, antara lain :
A. Tantangan tentang kemampuan untuk menghadapi berbagai perubahan masa depan. Menghadapi hal tersebut adalah bukan tidak mungkin, apabila dihadapkan dengan berbagai kemajuan dunia ilmu dan tehnologi, disadari atau tidak secara pasti akan menguras pemusatan perhatian terhadap proses tadabbur Al Qur-an dan menyempurnakan kembali pemahaman terhadap Al Hadits Shahih, adalah pengendali bagi perjalanan dan kiprah umat manusia di segala zaman sampai akhir zaman.
B. Tantangan di bidang kemampuan untuk menghasilkan para lulusan yang berkualitas. Dalam hal ini adalah bertujuan untuk memperkuat dalam upaya menjadi Muttabi’ur rasul, sehingga program kemanusiaan senantiasa menjadi program unggulan, dalam rangka membangun Khilafah di seluruh bangsa-bangsa di dunia ini sesuai dengan petunjuk dan janji Allah.
C. Tantangan dalam hal upaya. Apapun dan betapapun keadaan yang mungkin terjadi merupakan medan yang sangat berat di tengah-tengah gejolak perubahan dan globalisasi, namun wajib mengaktualisasikan misi Islam. Hal tersebut adalah bagian dari jihad yang sangat mulia.
D. Tantangan berupa upaya pelestari yang di dalamnya menuntut kemampuan keberhati-hatian dan kerapian dalam memproses agar benar-benar berlandaskan kepada Al Qur-an dan Al Hadits yang shahih. Karena apapun alasannya maka secara nurani umat manusia sedunia mendambakan buah bukti dari makna Islam, yaitu pemersatu dan pembawa kepada Rahmatan lil ’Alamin.
Untuk selanjutnya, yang menjadi dambaan umat manusia pada umumnya dan khususnya umat Islam, adalah lahirnya tokoh-tokoh dunia yang berkualitas, kokoh, dan kukuh dalam berpedoman kepada Al Qur-an dan Al Hadits Shahih.
Sehingga dalam mengadakan pendidikan pesantren yang berskala Internasional, harus dapat mengupayakan bagi terwujudnya generasi yang berkemampuan dalam penguasaan dan pengembangan terhadap ilmu/bidangbidang keilmuan kemudian berkemam-puan secara profesional dalam mengentaskan kepada realitas kehidupan masyarakat di seluruh bangsa-bangsa di dunia, terutam dalam hal wawasan dan perilaku serta ilmu terapan. Dengan demikian akan berkemampuan membawa pengaruh terhadap umat dalam segala kiprah kerja yang bersifat konstruktif bagi kemanusiaan.
Al Qur-an sendiri telah menyediakan bimbingan dan panduan serta petunjuk yang sangat sempurna dengan ayat-ayatnya Insaniyah (masalah perilaku), Kauniyyah (masalah rahasia sumber daya alam), Tarikhiyyah (masalah sejarah manusia dan kemanusiaan), dan Taqorrub/Ubudiyyah (masalah hubungan dan pendekatan kepada Allah Yang Maha-Pencipta). Bahkan lebih dari itu, Al Quran telah Allah tetapkan di dalamnya berisikan liputan empat tingkatan ilmu, yaitu tingkatan eksak, tingkatan abstrak, tingkatan relatif abstrak, dan tingkatan absolut abstrak.
Dengan demikian sudah semestinya bagi setiap muslim berkewajiban mempunyai rasa terpanggil dan dituntut keikutsertaannya dalam membangun pendidikan kepesantrenan yang berskala dunia. Mengingat petunjuk Allah untuk mendukung ketetapan sunatullah tentang keberadaan masyarakat manusia yang berbangsa-bangsa dan berqabilah-qabilah, sehingga masalah kemanusiaan sebagai topik utama Al Qur-an (QSAl Hujurat, 49 : 13) :
A. Allah telah menetapkan bahwa umat mukminin adalah sebagai “Khoiro Ummah” sebagaimana difirmankan dalan Surah Ali Imron, 3 : 110 :
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ ١١٠
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (110).
Secara maknawi ayat tersebut memberikan ketegasan bahwa mukmin itu adalah sebagai manusia subjek, artinya pemimpin asli atau informal leader atau indigenous leader, yang di dalam bahasa Hadits, Rasulullah menyebutkan dengan istilah “ra’un”, yaitu yang mempunyai tugas dan tanggung jawab keumatan untuk menegakkan kemanusiaan yang utuh.
B. Dalam upaya keumatan melaksanakan pengkondisian terhadap generasi melalui berbagai bimbingan menuju perwujudan nilai kemanusiaan dalam pengertian peradaban yang benar, membawa dan memindahkan umat dari kegelapan kepada cahaya iman yang terang benderang. Kemudian membuka kemajuan dunia, kesemuanya tersebut dilakukan secara bersamaan dengan berdasarkan Al Qur-an dan Al Hadits Shahih. Sebagaimana yang difirmankan dalam Al Qur-an Surah Fushilat, 41 : 34-35, yaitu :
وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ ٣٤ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْاۚ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ ٣٥
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (34). “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (35).
Hal tersebut sangat penting dikarenak untuk menghadapi kafirin yang berada pada kondisi yang disebut krisis manusia modern, yang dapat mengancam nilai kemanusiaan, sebagai akibat dari kegoncangan jiwa dan kekosongan ‘aqidah. Ini akan terbukti dalam menghadapi apa yang disebut Era Globalisasi, bahwa globalisasi adalah proses interaksi yang mendunia yang muncul akibat terjadinya revolusi iptek yang senantiasa mengalami perkembangan. Sehingga akan merupakan era kompetitif dalam seluruh bidang kehidupan yang disertai dengan tingkat persaingan yang tinggi. Dan secara kenyataan akan membuat setiap individu dapat berkomunikasi dan berinteraksi relatif bebas. Maka ayat tersebut menuntut kecermatan dalam menelaah secara kaidah ilmu Al Qur-an agar menciptakan suatu ilmu pengetahuan yang menjadi dasar utama bagi menyempurnakan beberapa cabang ilmu termasuk ilmu komunikasi.
Maka dengan pola Pendidikan Pesantren yang berskala Internasional tersebut merupakan dapur pemikiran dalam kepentingan sebagai pusat kajian terhadap
Al Islam, pengetahuan, ilmu pengetahuan dan teknologi, ulama, dan generasi. Untuk selanjutnya akan melahirkan ‘Ulama intelektual yang memiliki kematangan intelektual (inteliectual maturity) dan kepribadian utuh (personal organization), yang akan bertindak sebagai pemandu masyarakat dunia.
Hal tersebut sangat beralasan mengingat bahwa Al Qur-an mengajarkan dalan Surah Al Imron, 3 : 68 :
اِنَّ اَوْلَى النَّاسِ بِاِبْرٰهِيْمَ لَلَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ وَهٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ وَاللّٰهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ ٦٨
“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (68).
Tentang Kurikulum
Dalam pembuatan suatu rencana umum yang berkaitan denga bahan-bahan yang bersifat khusus tentang pelajaran yang akan disajikan untuk mengantar dan memberi pembekalan kepada santri sehingga mereka akan mendapatkan tanda bukti lulusan atau sempurna sebagai santri berupa sertifikat untuk memperoleh kemampuan dalam berbagai kepentingan ummat sesuai dengan petunjuk dan tuntutan Islam. Karena itu harus meliputi “intracurricular dan extracurricular”. Yang perlu diketahui bahwa kurikulum yang ditetapkan dalam pesantren tersebut harus ada saling keterkaitan, disebabkan bertujuan untuk mencetak informal-leader, yang dalam Al Hadits disebut “Ra’un”, dalam suatu perencanaan “core curriculum”, yaitu satu kelompok mata pelajaran dijadikan sebagai pusat atau inti dan akan membangun rasa ketergantungan dan menunjukkan hubungan dengan yang tersebut.
Sebenarnya curriculum yang berarti “jalan”, yang penyajiannya adalah pengantar bagi pembinaan yang berujung untuk kepentingan karier hidup. Oleh karena itu, dalam pendidikan pesantren yang berskala internasional di samping masalah keilmuan diperlukan faktor-faktor lain yang dapat mendukung bagi pembangunan sumber daya manusia yang utuh paripurna dan berdaya guna dalam berbagai kepentingan yang terkait dengan masalah keumatan dilandasi dengan Ad Din Al Khoslish, agar tidak mengambil selainnya apapun alasannya. Karena masalah pendidikan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Rabb sebagaimana dituntutkan Al Qur-an Surah Az-Zumar, 39 : 3, yaitu :
اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُۗ وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰىۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ەۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ ٣
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah Ad-Din yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (3).
Ayat tersebut diambil bagian sudut di antara jurusannya adalah masalah program pendidikan, karena Allah telah memberikan petunjuk-Nya, antara lain: A. Dalam Surah An Nisa 9 :
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا ٩
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
B. Dalam Surah Maryam, 19 : 5-6, Nabi Zakaria menyampaikan keprihatinannya terhadap generasi dan pernyataannya diterangkan dalam ayat tersebut, yaitu :
وَاِنِّيْ خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَّرَاۤءِيْ وَكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا فَهَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّاۙ ٥ يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦
“Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra.” (5). “Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah dia, ya Rabbku, seorang yang diridlai.” (6).
Dengan demikian maka berarti betapa penting tentang keberadaan kurikulum yang rapi, baik, dan benar, sehingga dengan itu akan berarti telah mempersiapkan metode pendidikan secara memadai.-
Banyuasin, Sumatera Selatan
Tanggal : 17 Syawal 1426 H
17 Januari 2006 M


