Sederhana, namun penuh makna. Itulah gambaran suasana malam penutupan Kegiatan Pesantren Ramadhan Anak-Anak (PPRA) di Yayasan Pendidikan dan Dakwah AKUIS Cabang Prabumulih, Kamis malam Jum’at, 24 Ramadhan 1447 H/ 12 maret 2026 M. Bertempat di kediaman Ust. Agus Hadi, acara yang berlangsung dari pukul 20.30 hingga 21.15 WIB ini menjadi bukti bahwa sebuah perayaan tak selalu harus meriah, asalkan kehangatan dan kebersamaan menyertainya.
Kegiatan yang selama bulan Ramadhan ini diisi dengan belajar dan bermain, resmi ditutup dalam sebuah acara sederhana yang dipandu oleh Wafid Ihza Al-Muqoffa, atau yang akrab disapa Iza, sebagai Master of Ceremony (MC). Meski masih duduk di kelas 1 Ma’had ‘Aqu-Lu eL-Muqoffa Al-Islamiy, Iza dengan percaya diri memandu jalannya acara, diawali dengan ungkapan syukur dan terima kasih kepada sembilan anak peserta yang telah setia mengikuti kegiatan.
Kesederhanaan yang Menghangatkan
Dalam sambutannya, Muhammad Haris selaku ketua pelaksana menyampaikan apresiasi dan permohonan maaf. Dengan rendah hati, ia mengakui ketidakhadirannya yang jarang selama kegiatan berlangsung karena tempat tinggalnya yang cukup jauh. Sebuah pengakuan jujur yang justru mencerminkan kedewasaan dan ketulusan seorang pemuda dalam memimpin.
Puncak acara penutupan pun berlangsung dalam balutan kesederhanaan yang mengundang senyum. Setelah sesi kuis interaktif—di mana anak-anak dengan antusias memilih angka dan menjawab pertanyaan seputar materi yang telah mereka pelajari selama Ramadhan—tibalah momen yang paling dinanti: pembagian snack.
Tak ada hadiah mewah atau bingkisan besar. Hanya sekadar makanan ringan yang disiapkan oleh para pengajar muda. Namun, kebahagiaan yang terpancar dari wajah para peserta seketika mengubah suasana menjadi penuh keceriaan.
“Mereka sangaaattt antusias dan bahagia ketika mendapatkan snack masing-masing. Meski tidak seberapa, momen seperti inilah yang justru membuat suasana menjadi hangat,” demikian tertulis dalam laporan kegiatan yang disusun oleh Alya Azzahra Nursabrina, sebuah kalimat yang dengan sempurna menangkap esensi kebersamaan yang jauh lebih berharga dari nilai materi.
Harapan di Balik Senyuman
Sebelum acara benar-benar ditutup dengan foto bersama, Alya Azzahra Nursabrina, salah satu tim pengajar dari santri Ma’had ‘Aqu-Lu eL-Muqoffa Al-Islamiy tingkat Zu’ama, turut menyampaikan pesannya. Ia berharap kegiatan sederhana ini dapat membawa dampak positif bagi adik-adik peserta ke depannya.
“Saya berpesan, semoga adik-adik selalu semangat belajarnya, dan semakin cinta dengan Islam juga sejarahnya, sehingga ke depannya adik-adik semua menjadi generasi yang menghidupkan Islam,” ujarnya. Ia juga tidak lupa memohon maaf jika selama proses belajar ada hal yang tidak berkenan.
Pesantren Ramadhan Anak-Anak di YPD AKUIS Cabang Prabumulih ini mungkin tidak menyelenggarakan penutupan megah dengan panggung atau hadiah mahal. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan kehangatan yang tulus, dedikasi para pemuda pengajar, serta secercah harapan untuk melahirkan generasi yang cinta Islam. Sebuah penutupan yang sederhana, namun akan selalu dikenang.
Muhammad Iqbal Santoso











