Reporter: Muhammad Baridjus Salam
Masjid el-Muqoffa, 27 Ramadhan 1447 H/15 Maret 2026 – Suasana haru dan bahagia mewarnai malam penutupan Pesantren Ramadhan Anak-Anak (PPRA) YPD AKUIS Pusat tahun 1447 H. Acara yang berlangsung setelah Sholat Tarawih berjama’ah, pukul 21.00-22.40 WIB ini menjadi puncak dari rangkaian kegiatan selama 24 hari yang telah dilalui oleh 96 santri anak-anak, mayoritas dari Tarbiyatul Awaliyah.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, PPRA 1447 H memiliki catatan istimewa: untuk pertama kalinya kegiatan ini berada di bawah naungan Urusan Kepemudaan YPD AKUIS Pusat, setelah sebelumnya dikelola oleh Bidang Pendidikan. Pergeseran ini membawa semangat baru dan cerita inspiratif dari para panitia muda yang menggerakkannya.
Malam Penuh Persembahan dan Apresiasi
Dikemas dengan hangat, acara penutupan dipandu oleh Nada Syahidah, santri putri Ma’had ‘Aqu-Lu eL-Muqoffa Al-Islamiy kelas 6 yang juga merupakan alumni peserta PPRA tahun-tahun sebelumnya. Kehadirannya sebagai MC menjadi simbol estafet perjuangan—dari murid menjadi bagian dari penyelenggara.
Malam itu, Masjid el-Muqoffa menjadi saksi kegembiraan anak-anak yang tampil dengan penuh percaya diri. Persembahan nasyid dan hafalan surah-surah pendek bergantian meramaikan acara:
- Kelas Pra TK dan TK membuka dengan nasyid ceria sebelum sambutan
- Kelas 1-2 melanjutkan dengan persembahan nasyid
- Kelas 3-4 dan 5-6 bergilir membacakan hafalan surah-surah pendek dengan suara merdu
Kegembiraan mencapai puncaknya saat pembagian hadiah untuk para pemenang lomba. Selama pesantren berlangsung, anak-anak telah berkompetisi dalam berbagai lomba: adzan, mewarnai, praktik sholat, hafalan surah pendek, hafalan doa sehari-hari, cepat-tepat, serta putra-putri terbaik di setiap kelas dan kelompok terbaik. Wajah-wajah ceria tak terbendung saat nama-nama pemenang dipanggil ke depan. Tak lupa, seluruh peserta yang telah berpartisipasi juga mendapat apresiasi sebagai bentuk penghargaan atas semangat mereka mengikuti PPRA selama 24 hari.
Sambutan yang Menginspirasi
Ilham Grenadi, Ketua Pelaksana yang juga santri Ma’had tingkat Zu’ama, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih yang tulus. “Terima kasih tak terhingga kepada ibu-ibu yang setiap malam dengan setia menyediakan snack untuk anak-anak kita. Juga kepada para jama’ah yang telah berinfaq, sehingga kegiatan ini dapat berjalan lancar,” ujarnya. Ia juga melaporkan jumlah santri serta transparansi penggunaan infaq selama pesantren berlangsung.
Sementara itu, Ustadz Edi Priadi, Ketua YPD AKUIS Pusat, dalam sambutannya menitipkan pesan mendalam. “Anak-anak kita adalah masa depan umat Islam. Pesantren Ramadhan ini harus menjadi tempat belajar yang menyenangkan sekaligus membentuk karakter mereka. Kami juga menyampaikan beberapa catatan perbaikan untuk panitia agar PPRA tahun depan bisa lebih baik lagi,” demikian pesannya.
Pemain Di Balik Layar: Yuk Aisyah dan Rekor Infaq Jama’ah
Di balik kemeriahannya, ada cerita perjuangan para panitia muda yang patut diacungi jempol. Salah satu sosok yang mencuri perhatian reporter adalah Aisyah Ayunda, atau yang hangat disapa Yuk Aisyah. Santri putri Ma’had ‘Aqu-Lu eL-Muqoffa Al-Islamiy tingkat Zu’ama ini dipercaya mengemban amanah ganda sebagai Ketua Bendahara sekaligus pembimbing di PPRA 1447 H.
Bagi Yuk Aisyah, tahun ini menjadi pengalaman pertama yang penuh lika-liku. Jika di tahun-tahun sebelumnya ia hanya mengikuti arahan ketua, kini ia harus ikut andil dalam setiap keputusan. Berikut kesan-kesannya yang menginspirasi:
1. Mencari Dana Infaq: Rekor 8 Juta Rupiah
Tugas pertama yang menegangkan adalah mencari dana infaq untuk hadiah anak-anak. Awalnya ia tidak menyangka, namun berkat kegigihan dan kepercayaan jama’ah, terkumpul dana lebih dari Rp 8.000.000,-. Angka ini menjadi pemecah rekor nominal terbesar sepanjang sejarah PPRA. Sebuah pencapaian luar biasa yang membuktikan bahwa kepercayaan dan kesungguh-sungguhan bisa membuahkan hasil di luar ekspektasi.
2. Belanja Hadiah: Antara Rasa Malu dan Amanah Besar
Sebagai salah satu koordinator utama belanja, Yuk Aisyah harus memimpin pembelian hadiah dalam skala besar—pengalaman pertama yang menguji mentalnya. Ia mengaku diliputi berbagai perasaan:
- Takut dan cemas memegang amanah uang infaq jama’ah
- Ragu salah pilih barang yang tidak sesuai
- Malu saat harus menawar harga seperti ibu-ibu di pasar
- Dijudesin—dihadapkan pada wajah dan sikap penjual yang tidak ramah saat bertanya harga—yang menguji kesabarannya
Namun dengan modal nekat dan percaya diri, ia memaksa diri membuang rasa gengsi. “Pertama kali belanja di pasar dengan nominal besar dan memegang amanah uang infaq dari jama’ah, rasanya campur aduk. Tapi demi adik-adik peserta, semua rasa malu dan takut harus ditaklukkan,” kenangnya.
3. Menghadapi Anak-Anak Aktif: Ujian Kesabaran
Sebagai pembimbing, Yuk Aisyah juga harus berhadapan dengan anak-anak yang aktif, bahkan kadang “bandel”. Pengalaman ini memaksanya belajar mengelola emosi dan mencari pendekatan yang tepat. “Mau tidak mau, saya harus belajar memahami psikologi anak. Ini pengalaman yang tak ternilai sebagai bekal ke depan,” ujarnya.
4. Komunikasi Aktif: Kunci Menghindari Kesalahan
Dalam setiap langkah, Yuk Aisyah menekankan pentingnya komunikasi aktif antarpengurus. Setiap keputusan selalu melalui diskusi dan koordinasi. Prinsip ini terbukti membantu meminimalisir kesalahan, apalagi sebagai panitia baru yang masih belajar.
5. Apresasi Manis: Buka Bersama di Malomo Kopi
Setelah semua rangkaian acara usai, seluruh panitia diajak buka bersama di Malomo Kopi Palembang. Momen kebersamaan ini menjadi hadiah terindah setelah perjuangan panjang. “Saat selesai penutupan dan akhirnya semua panitia diundang buka bersama, rasanya haru. Ini bentuk apresiasi bahwa perjuangan kami selama 24 hari benar-benar dihargai,” ungkap Yuk Aisyah.
Penutup: Estafet Perjuangan Generasi Muda
Acara penutupan diakhiri dengan foto bersama seluruh panitia PPRA dengan Ketua Pembina YPD AKUIS, Ustadz Arbani, dilanjutkan dengan makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan syukur.
Perpindahan PPRA ke naungan Urusan Kepemudaan terbukti tidak hanya sekadar perubahan administratif, tetapi juga momentum kaderisasi yang melahirkan generasi muda tangguh seperti Yuk Aisyah dan seluruh tim panitia. Mereka adalah bukti bahwa generasi muda AKUIS siap melanjutkan estafet perjuangan—bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai pemimpin yang menginspirasi.
Dari pengalamannya, Yuk Aisyah berpesan: “Tidak ada pengalaman yang sia-sia. Rasa takut, cemas, malu, dan ragu adalah bagian dari proses pembelajaran. Yang terpenting adalah keberanian untuk memulai dan komitmen untuk menyelesaikan amanah dengan sebaik-baiknya.”
Selamat kepada seluruh santri, panitia, dan jama’ah YPD AKUIS Pusat atas suksesnya Pesantren Ramadhan Anak-Anak 1447 H. Semoga menjadi ladang pahala dan inspirasi bagi generasi mendatang. Sampai jumpa di PPRA tahun depan! 🔥🔥🔥














