Khathib: Ustadz Arif Husni
Jum’at, 1 Syawal 1447 H / 20 Maret 2026 M
Muqaddimah: Dua Golongan Manusia
Khutbah dibuka dengan peringatan tegas tentang dua golongan manusia di hadapan Allah, bahwa “orang yang celaka dan rugi secara hakiki adalah mereka yang semangatnya membara dalam urusan dunia tetapi kendor dalam urusan akhirat”, sebuah kriteria kerugian yang harus direnungkan di hari kemenangan ini sebagai bahan evaluasi diri apakah Ramadhan telah benar-benar membawa perubahan atau justru hanya menjadi rutinitas tahunan yang berlalu tanpa makna.
Syukur sebagai Modal Awal Menyambung Hidup
Menyambung kehidupan pasca-Ramadhan dimulai dengan syukur atas tiga nikmat utama yang patut direnungkan, yaitu nikmat hidup yang masih memberi kesempatan menghirup udara dan merasakan indahnya iman, nikmat kesehatan yang memungkinkan kita beribadah dengan amalan terbaik atau ahsanu amalan, serta nikmat iman dan Islam yang merupakan sebesar-besar nikmat yang tiada tandingannya karena tanpanya seluruh kenikmatan dunia tidak akan bernilai di sisi Allah. Di akhir Ramadhan, setiap Muslim diajarkan untuk memanjatkan do’a agar shaum yang dijalani diterima Allah, dosa-dosa diampuni, dan dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan sebagai bentuk kerinduan dan harapan akan keberkahan yang berkelanjutan.
Ramadhan sebagai Proses Pendidikan Menjadi Manusia Bertaqwa
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 83
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu melaksanakan shaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”
Bahwa shaum diwajibkan agar manusia bertaqwa, dan selama sebulan penuh Ramadhan telah mendidik umat Islam untuk meraih lima karakter mulia yang menjadi indikator ketaqwaan sejati.
- menjadi orang sabar atau ash-shabirin QS. Ali Imran [3]: 17, karena shaum melatih kesabaran menahan lapar, haus, dan hawa nafsu, di mana mereka disebut penghuni jannah QS. Ar-Ra’d [13]: 23-24. Sementara itu, QS. Al-Baqarah [2]: 145 menegaskan bahwa kesabaran adalah kunci pertolongan Allah.
- Menjadi orang patuh dan taat atau al-qanitin QS. An-Nahl [16]: 120, karena Ramadhan mendidik jiwa untuk tunduk pada perintah Allah tanpa banyak alasan dan tanpa menggugat ketentuan-Nya.
- Menjadi orang yang mudah membantu atau al-munfiqin, di mana zakat fitrah dan sedekah di bulan Ramadhan mengajarkan kepedulian sosial dan membersihkan harta serta jiwa dari sifat kikir QS. At-Taubah [9]: 103.
- Menjadi orang yang senantiasa bertobat atau memohon ampunan, sebagaimana sabda Rasulullah riwayat Al-Bukhari dan Muslim: “Barang siapa yang bershaum di bulan Ramadhan karena iman dan menghisab diri maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”, sebuah ampunan yang mensyaratkan kesungguhan iman dan pengharapan ampunan yang tulus.
- Kembali kepada fitrah QS. Ar-Rum [30]: 30, yang memerintahkan kita untuk menetapkan diri pada Ad-Dinul Islam sebagai fitrah Allah yang telah diciptakan-Nya pada setiap manusia, sehingga Idul Fitri menjadi momen kembalinya manusia kepada kodrat yang sesungguhnya.
Ciri Keberhasilan Pendidikan Ramadhan
Keberhasilan pendidikan Ramadhan tidak diukur dari sekadar lapar dan haus yang ditahan selama sebulan, melainkan dari perubahan karakter yang nyata pasca-Ramadhan yang tercermin dalam empat indikator utama:
- Mengoptimalkan jiwa dan raga dengan aturan Allah, di mana hubungan antara manusia dan Ad-Dinul Islam bagaikan ikan dengan air yang tidak dapat dipisahkan.
- Meningkatnya kepedulian kepada sesama, karena Ramadhan telah membentuk kepekaan terhadap kondisi sekitar yang tidak boleh pudar setelah bulan Ramadhan berlalu.
- Meningkatnya semangat beribadah, di mana semangat sholat malam/tarawih, membaca dan mentadabburi Al-Quran, sampai berinfaq fi sabilillah dan bersedekah harus terus berlanjut sebagai kebiasaan baik yang telah terlatih.
- Menjadi pribadi yang bermanfaat, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, sebuah standar kemuliaan yang harus terus diaktualisasikan.
Menjaga Fitrah dengan Strategi Pasca-Ramadhan
Agar tidak termasuk golongan yang rugi yakni mereka yang semangatnya membara dalam urusan dunia tetapi kendor dalam urusan akhirat, terdapat tiga langkah strategis yang saling terkait untuk menjaga fitrah setelah Ramadhan:
- Mengelola waktu dengan sungguh-sungguh QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3 bahwa manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal sholeh, serta saling berwasiat/menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, sehingga jangan sampai waktu yang Allah titipkan terbuang sia-sia dengan tiga penyakit yang merusak fitrah, yaitu syirik, riya, dan takabbur.
- Mendekatkan diri dengan Al-Quran, karena shaum, Ramadhan, dan Al-Quran adalah satu kesatuan yang saling mengikat. Bahwa seandainya Al-Quran itu bukan dari Allah niscaya akan banyak pertentangan di dalamnya QS. An-Nisa [4]: 82. Allah mempertanyakan mengapa manusia tidak mau mentadaburi Al-Quran ataukah hati mereka sudah terkunci QS. Muhammad [47]: 24. Kisah Umar bin Khattab yang tersungkur setelah mendengar tiga ayat dari Surah Thaha menjadi bukti dahsyatnya pengaruh Al-Quran jika hati terbuka. Allah perintahkan untuk mendengarkan dan memperhatikan dengan saksama (berkonsentrasi) ketika Al-Quran dibacakan agar mendapat rahmat QS. Al-A’raf ayat 204.
Dalam proses mendekatkan diri kepada Al-Quran, setiap Muslim diajak merenungkan tiga realita kehidupan, yaitu apa yang dilakukan di dunia akan dipertanggungjawabkan, apa yang dikumpulkan pada akhirnya akan ditinggalkan, dan siapa yang dicintai pun pada akhirnya akan ditinggalkan. - Menumbuhkan rasa terpanggil dalam beramal dengan keikhlasan QS. Az-Zumar [39]: 11-12, bahwa kita diperintah untuk mengabdi kepada Allah dengan tulus ikhlas dan menjadi orang yang pertama-tama menjadi muslim/orang yang berserah diri, karena tanpa keikhlasan amal yang dilakukan hanyalah sia-sia tanpa nilai di sisi Allah.
Penutup: Doa dan Harapan
Khutbah ditutup dengan do’a dan harapan yang mendalam, memohon kepada Allah agar shaum yang telah dijalani diterima sebagai bekal menuju ridha-Nya, dosa-dosa baik yang disengaja maupun tidak agar diampuni, dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan dalam keadaan sehat dan semakin kuat iman, serta dijadikan sebagai hamba yang semakin tunduk, patuh, dan taat sehingga benar-benar meraih predikat taqwa di sisi-Nya. Semoga setelah Ramadhan kita tidak kembali menjadi pribadi yang lalai, tetapi menjadi pribadi yang fitrah dengan semangat yang tidak hanya membara untuk dunia tetapi juga membara untuk akhirat.
Abimanyu Ahmad Qafid















