Khathib: Ustadz Cipto Sudarmo
Jum’at 1 Syawal 1447 H / 20 Maret 2026 M
Lapangan Masjid El Muqoffa, Palembang
Pendahuluan: Hakikat Persaudaraan dalam Islam
Idul Fitri bukan sekadar momen merayakan kemenangan setelah sebulan melaksanakan shaum. Lebih dari itu, hari raya ini adalah kesempatan emas untuk kembali merajut tali persaudaraan yang sempat renggang.
Persaudaraan dalam Islam bukan sekadar ikatan sosial biasa, melainkan bagian tak terpisahkan dari keimanan seorang muslim. Ada beberapa alasan mendasar mengapa persaudaraan ini harus dijaga dengan sungguh-sungguh:
- Ikatan persaudaraan adalah bukti keimanan. Rasulullah ﷺ bersabda:
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Muslim)
Artinya, merajut persaudaraan dan kasih sayang antar sesama muslim merupakan manifestasi dari iman yang sesungguhnya.
- Muslim itu bersaudara. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Hujurat (49): 10:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudaramu agar kamu mendapat rahmat.”
Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam adalah satu keluarga besar. Sudah seharusnya keutuhan ini dijaga dari segala bentuk provokasi dari pihak-pihak yang ingin memecah belah.
- Keseimbangan dalam pengabdian. Dalam QS. Ali Imran (3): 112:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ
“Kehinaan ditimpakan kepada mereka di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka pasti mendapat murka dari Allah dan kesengsaraan ditimpakan kepada mereka. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.”
Allah mengingatkan bahwa kehinaan akan menimpa mereka yang melanggar perjanjian dengan Allah dan memutus hubungan dengan manusia.
Seorang muslim tidak hanya dituntut membangun hubungan vertikal (hablum minallah) melalui ibadah seperti sholat, zakat, dan shaum, tetapi juga hubungan horizontal (hablum minannas), terutama dengan sesama muslim. Kedua dimensi pengabdian ini harus berjalan seimbang.
- Perpecahan adalah musibah terbesar.
Salah satu ujian terbesar umat Islam saat ini adalah retaknya persaudaraan. Kita sering terkotak-kotak oleh perbedaan madzhab, kelompok/firqah, dan partai. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
الجماعة رحمة والفرقة عذاب
“Al-Jama’ah itu (mengundang) rahmat, sementara berpecah belah (mengundang) bencana.” (HR. Ahmad)
Inilah salah satu sebab mengapa umat Islam mudah dikalahkan: jauh dari Al-Quran dan hilangnya persatuan dan persaudaraan.
Atas dasar inilah, momen Idul Fitri menjadi momen yang tepat untuk kembali menjalin persaudaraan—bukan karena materi, jabatan, atau kepentingan duniawi, tetapi semata-mata karena Allah SWT.
Upaya Membangun Kembali Persaudaraan
Untuk mewujudkan persaudaraan yang kokoh, ada tiga langkah utama yang dapat kita lakukan:
- Membangun Silaturahim
Allah menyebut orang yang memutus tali silaturahim sebagai orang yang fasiq (QS. Al-Baqarah: 27-28):
الَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖۖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
“(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan (silaturahmi), dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia akan mematikan kamu, Dia akan menghidupkan kamu kembali, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan?“
Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan: لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ “Tidak akan masuk jannah orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari & Muslim)
Maka di hari yang fitri ini, mari kita saling bersilaturahim agar ikatan persaudaraan kita tetap terjaga.
- Saling Bermaafan dan Berlapang Dada
Memaafkan adalah puncak ketakwaan. Allah berfirman: “Jadilah (engkau) pemaaf – خُذِ الْعَفْوَ” QS. Al-A’raf (7): 199. Dan dalam QS. Ali Imran (3): 133-134, Allah menjanjikan jannah bagi mereka yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan ini merupakan bukti ketaqwaan kepada Allah, yakni mampu memaafkan kesalahan manusia.
- Menebarkan Salam
Salam bukan sekadar ucapan, tetapi simbol kasih sayang dan kepedulian. Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا أَنْتُمْ فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Demi yang menggenggam jiwaku, Kalian tidak akan masuk jannah hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan akan membuat kalian saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
Dengan menebarkan salam, kita membangun ikatan hati yang kuat, bukan kebencian atau permusuhan.
Pesan Penutup: Kembali kepada Al-Quran
Segala kunci kebaikan, rahmat, dan keberkahan ada di dalam Al-Quran. Tidak mungkin terwujud persaudaraan yang sejati jika kita jauh dari petunjuk-Nya. Oleh karena itu, khatib menyampaikan dua pesan utama:
- Jangan tinggalkan Al-Quran. Bacalah, pelajari, dan amalkan isinya. Jadikan ia sebagai pedoman hidup.
- Perkuat persaudaraan. Jangan mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah. Tetaplah bersatu di atas jalan Allah.
Dengan dua kekuatan ini—berpegang teguh pada Al-Quran dan kokoh dalam persaudaraan—umat Islam akan mampu meraih janji kemenangan dari Allah SWT.
Nuansa Rizkiy











