Kelompok Kajian Desa Marga Mulia, Binaan YPD AKUIS Cabang Prabumulih
Jum’at, 1 Syawal 1447 H / 20 Maret 2026 M
Khatib : Ustadz Ahmad Febri
Bulan Ramadhan merupakan bulan pembinaan, bulan penggemblengan, dan bulan pentarbiyahan bagi setiap Muslim. Allah SWT telah menegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 183 bahwa kewajiban melaksanakan shaum diturunkan dengan tujuan akhir yang agung, yaitu membentuk insan yang bertaqwa.
Sedangkan taqwa merupakan kesadaran spiritual yang melahirkan kepekaan terhadap perintah dan larangan Allah dalam setiap sendi kehidupan. Dengan terbinanya setiap pribadi di bulan Ramadhan, maka akan lahir manusia berkarakter taqwa. Karakter inilah yang menjadi kunci utama terbukanya pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi, sebagaimana janji Allah dalam QS. Al-A’raf: 96.
Sebaliknya, Allah juga memberikan peringatan keras terhadap perilaku dusta dan ingkar. Dalam QS. An-Nahl: 112, Allah menggambarkan sebuah negeri yang awalnya aman, tenteram, dan rezekinya melimpah ruah, namun karena penduduknya mengingkari nikmat Allah, mereka ditimpa kelaparan dan ketakutan. Ini menunjukkan bahwa kedustaan dan kekufuran adalah pangkal dari berbagai bentuk kemurkaan Allah. Bahkan lebih jauh, Allah menyatakan dalam QS. Ar-Rum: 41 bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah tangan manusia sendiri, mengingatkan bahwa ingkar atas nikmat membawa pada kehancuran.
Dalam konteks kekinian, jangan sampai kita terpedaya oleh berbagai upaya sistematis yang ingin senantiasa memadamkan cahaya Allah. Allah SWT mengabarkan dalam QS. Ash-Shaff: 8 bahwa meskipun orang-orang kafir berusaha dengan segala cara untuk memadamkan cahaya Allah, Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya. Namun demikian, umat Islam tetap harus waspada terhadap tipu daya yang digambarkan dalam QS. Al-Baqarah: 204-206 tentang “kelompok” yang pandai berbicara di dunia namun buruk perbuatannya dan senantiasa berupaya menghalangi kebenaran.
Oleh karena itu, pembinaan Ramadhan tidak boleh berhenti pada level individu. Ia harus melahirkan sebuah komunitas/umat yang memiliki karakteristik, tujuan, dan cita-cita yang sama, yaitu menegakkan kebenaran. Allah SWT memerintahkan dalam QS. Ali ‘Imran: 104 agar di tengah umat Islam hadir segolongan orang yang menyeru kepada al-kahir (kemurnian Islam), menyuruh dengan yang ma’ruf, dan mencegah/mengantisipasi dari kemungkaran. Merekalah golongan yang beruntung.
Komunitas/umat yang lahir dari pembinaan Ramadhan ini memiliki misi besar: mengangkat bobot Islam ke permukaan pandangan umat manusia, menjadikan al Qur-an sebagai norma hukum yang mengatur tatanan kehidupan manusia dan kemanusiaan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Jatsiyah: 20, al Qur-an adalah bashairu linnasi (Norma hukum untuk seluruh umat manusia), hudan (petunjuk hidup), dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
Dengan pembinaan yang konsisten di bulan Ramadhan, diharapkan terbentuk karakter taqwa yang utuh—baik secara personal maupun sosial. Taqwa yang menjadi kunci keberkahan dunia dan akhirat, serta menjadi benteng utama umat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Sehingga Islam akan tampil dalam wujudnya yang sesungguhnya—rahmat bagi seluruh alam semesta (rahmatan lil ‘alamin)—dan bobotnya akan terangkat ke pandangan seluruh umat manusia (bashairu linnas).
Muhammad Haris







