Persitiwa langka Gerhana Bulan Total yang terjadi pada Selasa sore, 14 Ramadhan 1447 H/3 Maret 2026 M menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), peristiwa ini merupakan satu-satunya gerhana yang dapat diamati dari wilayah Indonesia sepanjang tahun 2026. Sayangnya, di sejumlah tempat, momen langka ini tidak dapat disaksikan secara langsung karena faktor cuaca.
Di lingkungan Yayasan Pendidikan dan Dakwah (YPD) AKUIS Pusat, jama’ah, santri, dan anak-anak yang telah bersiap untuk mengamati gerhana harus merasa sedikit kecewa. Sejak sore hari, langit di sekitar lokasi YPD AKUIS Pusat tertutup awan tebal, menyebabkan bulan sama sekali tidak terlihat. Meski demikian, semangat ibadah tetap berlangsung.
Rangkaian Prosesi Gerhana di YPD AKUIS Pusat
Rangkaian kegiatan diawali dengan buka bersama dan sholat maghrib berjama’ah di masjid eL-Muqoffa YPD AKUIS Pusat. Setelah itu, jama’ah yang terdiri dari pengurus, jama’ah, santri, dan anak-anak sekitar langsung melaksanakan sholat gerhana secara berjamaah.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib dalam sholat gerhana malam ini adalah Ketua Pembina YPD AKUIS, Ustadz Arbani. Sholat gerhana dilaksanakan dengan khusyuk meskipun bulan tidak nampak, sebagai bentuk keyakinan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Khutbah: Mengingat Jati Diri Manusia
Usai melaksanakan sholat, Ustadz Arbani menyampaikan khutbah singkat yang menyentuh hati para jama’ah. Dalam tausiyahnya, beliau mengawali dengan pembacaan QS. 41 : 11 yang menjelaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, termasuk pergerakan bulan dan matahari, berangkat dari ketetapan Allah SWT. Langit dan bumi serta seluruh alam semesta adalah bukti nyata bahwa makhluk itu bersujud dan bertasbih kepada-Nya.
“Jasad manusia sendiri berasal dari inti sari alam semesta, yaitu tanah,” ujar Ustadz Arbani dalam khutbahnya. “Selaku hamba Allah, sudah sepatutnya kita patuh dan ta’at kepada aturan Allah, baik dalam keadaan senang maupun tidak senang. Sebagaimana alam semesta yang taat pada aturan-Nya, sudah seharusnya kita pun demikian.”
Beliau menegaskan bahwa momentum gerhana ini adalah pengingat untuk mengembalikan jati diri sebagai seorang muslim. “Jangan sampai kita lupa diri. Kita berasal dari alam semesta yang taat kepada aturan Allah, maka manusia mestinya juga ta’at kepada aturan Allah,” tegasnya.
Khutbah kemudian ditutup dengan do’a yang dipimpin langsung oleh Ustadz Arbani, tanpa diamini oleh para jama’ah yang hadir.
Hidangan Sederhana Penuh Kehangatan
Suasana kebersamaan semakin terasa ketika rangkaian ibadah usai. Dengan penuh kehangatan, para muslimah dan santri YPD AKUIS Pusat menyiapkan aneka makanan ringan. Hidangan tersebut kemudian dibagikan dan disantap bersama oleh seluruh jama’ah yang hadir, menciptakan suasana silaturahmi yang erat di tengah malam yang mendung.
Meski langit Palembang sedang tidak bersahabat dan gerhana tidak terlihat, esensi dari peristiwa alam tersebut sebagai pengingat kebesaran Ilahi tetap berhasil diresapi oleh seluruh jama’ah di masjid eL-Muqoffa. Manusia semestinya malu bila melakukan pengingkaran terhadap aturan-Nya, karena alam semesta dengan segala kepatuhannya telah lebih dulu menjadi teladan dalam keta’atan kepada Sang Pencipta.
Juhdan Asadullah

















