Khathib: Ustadz Arbani (Ketua Pembina YPD AKUIS)
Jum’at 1 Syawal 1447 H / 20 Maret 2026 M
Pendahuluan: Bersegera Menuju Ampunan dan Jannah
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk bersegera meraih ampunan dan jannah-Nya. Dalam QS. Ali Imran [3]: 133-134, Allah berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robbmu dan kepada jannah yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.”
Selanjutnya Allah menjelaskan ciri orang bertaqwa dalam pangkal ayat 134:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
“(Yaitu) orang-orang yang senantiasa membelanjakan/menginfaqkan hartanya di jalan Allah, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit.”
Tiga Hal untuk Mempertahankan Ketaqwaan
Setelah melalui proses pendidikan selama tiga puluh hari di bulan Ramadhan, seorang mukmin diharapkan dapat meraih peningkatan ketaqwaan. Namun, ketaqwaan yang telah diperjuangkan tersebut bukanlah jaminan mutlak, melainkan sesuatu yang harus senantiasa dijaga dan dipelihara hingga akhir hayat. Dalam rangka mempertahankan ketaqwaan itu, terdapat tiga hal yang sangat penting untuk terus diistiqamahkan.
1. Aktif dalam Majelis Ilmu
Berdasarkan QS. Al-Anfal [8]: 29, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberimu furqan, menghapus kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni kamu. Dan Allah memiliki karunia yang agung.”
Makna taqwa dalam konteks ayat ini adalah tetap melanjutkan kewajiban mendatangi majelis-majelis ilmu yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Allah (Tadabbur Al-Quran). Dengan demikian, Allah akan memberikan:
- Furqan – kemampuan membedakan yang haq dan yang bathil.
- Penghapusan kesalahan – Allah menutupi kesalahan hamba-Nya di dunia.
- Ampunan – Allah mengampuni dosa-dosa di akhirat.
- Kemuliaan – Allah mengangkat derajat hamba-Nya.
2. Membiasakan Infak di Jalan Allah
Allah menjanjikan jannah kepada orang-orang bertaqwa, yang salah satu cirinya adalah senantiasa berinfak di jalan Allah (QS. Ali Imran [3]: 134).
Dalam QS. Saba’ [34]: 39, Allah berfirman:
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan apa pun yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.”
Selain itu, dalam QS. Al-Baqarah [2]: 268, Allah berfirman:
وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Dengan berinfak dan berbuat kebaikan, Allah akan mengampuni dosa-dosa dan mengangkat derajat pelakunya.
3. Menghidupkan Silaturahim
Allah memerintahkan umat Islam untuk menjaga persaudaraan. Dalam QS. Al-Hujurat [49]: 10, Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Dengan menghidupkan silaturahim dan mendamaikan sesama muslim, kehidupan berjama’ah yang penuh rahmat akan terwujud.
Penutup: Istiqamah Hingga Akhir Hayat
Ketiga hal di atas—aktif dalam majelis ilmu, gemar berinfak di jalan Allah, dan menghidupkan silaturahim—merupakan kunci pokok untuk mempertahankan ketaqwaan pasca Ramadhan. Dengan melaksanakan ketiganya, kita memiliki alasan yang kuat untuk mendapatkan janji Allah berupa jannah yang luasnya seluas langit dan bumi.
Marilah kita bermohon kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk senantiasa melakukan ketiga hal ini, sehingga ketika ajal menjemput, kita wafat dalam keadaan bertaqwa dan memperoleh jannah yang dijanjikan.
Muhammad Barca

















