Khathib: Ustadz Rizal Yandi
Jum’at, 1 Syawal 1447 H / 20 Maret 2026 M
Ringkasan
Ramadhan 1447 H pada satu sisi pandang merupakan cara Allah untuk mengkader Mukmin agar menjadi manusia yang shabar, punya kepedulian sosial dan termasuk sifat jujur. Sifat jujur (shodiq) diajarkan Allah dalam puasa karena ia merupakan ‘ibadah sirriyah artinya yang tahu sebenarnya apa seseorang itu benar-benar berpuasa atau tidak hanyalah yang bersangkutan dengan Allah. Ia menuntut untuk satu antara hati, lisan dan arkan. Kejujuran (shodiq) merupakan perintah Allah (QS at Taubah (9) : 119) yang akan mengarahkan sang manusia untuk menggapai kebaikan dalam kehidupan di dunia dan kebahagiaan di akhirat ( HR Muslim dari ‘Abdullah bin Mas’ud)
عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا».
[صحيح] – [متفق عليه] – [صحيح مسلم: 2607]
Abdullah bin Mas’ūd -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺbersabda,
“Hendaknya kalian jujur karena kejujuran itu menuntun kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu mengantarkan ke jannah. Seseorang akan selalu jujur dan berusaha untuk jujur sehinga dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur. Sebaliknya, jauhilah dusta karena dusta itu menjerumuskan kepada kedurhakaan dan sesungguhnya kedurhakaan itu menjerumuskan ke neraka. Seseorang akan selalu berdusta dan berupaya untuk berdusta sampai dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”
[Sahih] – [Muttafaq ‘alaih] – [Ṣaḥīḥ Muslim – 2607]
(Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (I/384); al-Bukhâri (no. 6094) dan dalam kitab al-Adabul Mufrad (no. 386); Muslim (no. 2607 (105)); Abu Dawud (no. 4989); At-Tirmidzi (no. 1971); Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (VIII/424-425, no. 25991); Ibnu Hibban (no. 272-273-at-Ta’lîqâtul Hisân); Al-Baihaqi (X/196); Al-Baghawi (no. 3574);)
Selain itu Allah juga mengajari manusia dalam ‘ibadah puasa untuk memperbaiki kedekatannya dengan Al Qur-an (QS al Baqarah (2) : 185) yang telah disinyalir Rasulullah ada diposisi “mahjuro” (QS al Furqon (25) :30), diantaranya disebabkan manusia mengikuti arahan kafir untuk tidak mendengar al Qur-an (QS Fushshilat (41) : 26) bahkan dengan program jahat kafir itu untuk mengalahkan Mukmin. Maka Mukmin dituntut memperbaiki hubungan dengan al Qur-an bukan sekedar membacanya, bukan “mahjuro” tetapi berupaya memasukkannya menjadi penghuni hati (QS al ‘Ankabut (29) : 49) dengan jalan mentadabburinya (QS al Baqarah (2) : 121) sehingga mampu menjadi orang yang tidak sesat dan tidak sengsara dunia dan akhirat (QS Thaha (20) : 123).Sehingga dari dua sisi ini, yaitu sifat kejujuran (shadiq) dan mentadabburi al Qur-an merupakan hal-hal yang akan mengarahkan manusia untuk menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala (QS al Baqarah (2) : 183).
Muhammad Iqbal Santoso











