Hari kemenangan ‘Idul Fitri di Talang Baru berlangsung khidmat dan penuh makna. Bertindak sebagai khatib sekaligus imam adalah Ustadz Ahmad Ulya Qomaru Zaman. Sholat ‘Idul Fitri dilaksanakan di Masjid Al Muttaqin, Desa Sukarela, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, Jum’at 1 Syawal 1447 H/20 Maret 2026 M—sebuah rumah ibadah yang masih dalam tahap pembangunan, namun telah menjadi tempat berteduh bagi harapan dan do’a umat.
Dalam khutbahnya, khatib membuka dengan seruan yang menggetarkan hati: agar setiap muslim meningkatkan dan menyempurnakan ketaqwaan, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 102—bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa, bukan sekadar terucap di lisan, melainkan meresap hingga ke dalam jiwa. Sebab, pada akhirnya, ketika ruh berpisah dari raga, yang diharapkan adalah pengakuan dari Allah SWT sebagai seorang muslim sejati.
Beliau juga mengingatkan agar manusia tidak tergolong dalam golongan yang lupa kepada Allah, sehingga Allah pun “melupakan” mereka, sebagaimana dalam Q.S. Al-Hasyr ayat 19. Pesan ini didahului oleh ayat sebelumnya yang menyeru untuk bertaqwa melalui muhasabah—sebuah perenungan mendalam terhadap amal perbuatan: sejauh mana langkah hidup yang telah ditempuh benar dan diridhai oleh Sang Pencipta alam semesta.
Lebih lanjut, disampaikan bahwa manifestasi ketaqwaan yang dikehendaki Allah di antaranya adalah membentuk pribadi berkarakter Islami dengan menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai suri teladan, sebagaimana Q.S. Ali Imran ayat 31. Selain itu, setiap muslim juga dituntut untuk menegakkan sistem kehidupan yang berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah, sebagaimana pesan dalam Q.S. Al-Furqan ayat 52.
Di tengah arus zaman yang kian deras, di mana kemaksiatan, kemungkaran, dan kerusakan kerap dipertontonkan dengan bangga melalui teknologi dan media sosial—sebagaimana diisyaratkan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 120 dan Q.S. Ash-Shaff ayat 8—umat Islam diingatkan untuk tidak larut mengikuti arus tersebut. Justru, seorang muslim sejati hendaknya mampu menjaga diri dan menegakkan nilai-nilai Islam sebagai benteng kehidupan.
Pelaksanaan ibadah Ramadhan yang telah dilalui diharapkan menjadi jembatan yang semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, menguatkan iman, dan meneguhkan ketaatan. Karena hakikat dan tujuan dari ibadah shaum adalah meraih nilai taqwa yang merupakan nilai termulia di sisi Allah (Qs. Al Hujarat, 49:13)
Suasana haru menyelimuti ketika takbir mulai dikumandangkan oleh khatib. Lantunan ayat-ayat suci itu seakan mengetuk relung hati. Sebagian jama’ah tak kuasa menahan air mata—mengingat keluarga yang tak dapat berkumpul di hari raya ini, mengenang perjalanan hidup yang telah dilalui, serta menyadari usia yang kian menua dan fisik yang semakin melemah.
Usai pelaksanaan shalat ‘Idul Fitri dan khutbah, suasana hangat berlanjut. Bapak Kadrun yang mengadakan open house mengundang para jama’ah untuk menikmati sarapan bersama. Dari sana, silaturahim pun mengalir, berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya, hingga waktu Zhuhur tiba—mengikat ukhuwah dalam kehangatan ‘Idul Fitri yang penuh berkah.
Syahril Dwi Prianto












