KURIKULUM MA’HAD ‘AQU LU EL-MUQOFFA AL-ISLAMIY

Pondok Pesantren Berskala Internasional

Visi Sang Perintis

Pada 17 Syawal 1426 Hijriyah, bertepatan dengan 17 Januari 2006, di tanah Banyuasin, sebuah gagasan visioner ditorehkan oleh Ustadz Muhammad Bardan Kindarto. Tulisan beliau yang berjudul “Program Pendidikan Pesantren Berskala Internasional” menjadi landasan sekaligus peta jalan bagi sebuah institusi pendidikan yang bercita-cita melampaui batas-batas geografis dan kurikulum konvensional. Gagasan ini bukan hanya wacana; ia adalah do’a dan harapan dari seorang ‘ulama yang tawadhu’.

Cita-cita besar itu menemukan momentum realisasinya pada Sabtu, 1 Muharram 1433 H (26 November 2011 M). Ditandai dengan pembubaran Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah ‘Aqu Lu El Muqoffa (1997-2011), berdirilah Ma’had Al-Islamiy ‘Aqu Lu El Muqoffa. Nama “Ma’had” dipilih dengan kesadaran penuh akan maknanya dalam bahasa Arab: Perguruan Tinggi (Islamic Institute/College/Academy/University). Ini adalah deklarasi bahwa lembaga ini bukan sekadar sekolah menengah, melainkan sebuah sistem pendidikan tinggi integral yang berlangsung selama 13 tahun yang mengatur, mendidik, dan menjaga (liputan Rabb) santri dari usia 12 hingga 25 tahun.

Misi: Melahirkan Pemimpin Solutif bagi Umat

Pendidikan Pesantren Berskala Internasional di Ma’had ‘Aqu Lu El Muqoffa dimaknai sebagai pendidikan keislaman berwawasan mendunia, mencakup program, kurikulum, tenaga pengajar, dan peserta didiknya. Visinya terpilar pada dua hal utama: 

    1. Pemimpin Berkaliber Dunia sebagai Al-Mursyid: Sebagai pemandu umat yang menguasai berbagai disiplin ilmu (multitasking), menjadi rujukan bagi setiap permasalahan umat.
    2. Pemimpin Berkaliber Dunia sebagai Ahli Profesional: Sebagai spesialis di bidang ilmu tertentu (monotasking) yang mendalam dan unggul.

Kedua profil ini disatukan oleh prinsip fundamental: Al-Hikmah (cerdas, cepat, tepat, dan cakap menanggapi permasalahan umat). Lulusan Ma’had dirancang untuk menjadi “pemberi solusi” (problem solver)—sebagai leader solutif, visionary leader, dan transformational leader—yang mampu menjawab tantangan kompleks zaman dengan pendekatan yang berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah. Inilah yang tercermin dalam moto pendirianya: “Pemimpin asli yang ilmiah, diniah, dan kritis” (The critical scientific and religious genuine leader).

Kerangka Kurikulum 13 Tahun: Sebuah Siklus Holistik dari Belajar hingga Mengabdi

Keunikan dan kekuatan kurikulum Ma’had terletak pada pembagian jenjang 13 tahunnya yang tidak lazim, berpijak pada psikologi perkembangan yang sejalan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

I. Landasan Psikologis dari Al-Qur’an
Kurikulum ini sensitif terhadap fase perkembangan psikologis santri: 

    • Fase Ghulam (Usia 12-16 Tahun): Fase anak-anak hingga remaja awal. Pendekatan pendidikan bersifat nurturing (penuh kasih), dengan metode pengajaran langsung (directive), penghafalan cerdas (smart retain), pemodelan (modeling), dan interaktif. Fokus pada penanaman dasar-dasar aqidah dan akhlak.
    • Fase Fata/Syabab (Usia 16-30 Tahun): Fase pemuda hingga dewasa. Di tingkat ini, materi pembelajaran lebih lanjut (advanced) dan mulai diperkenalkan metode berpikir kritis (critical thinking), inkuiri, dan pembelajaran dua arah (two-way learning). Santri diajak untuk lebih aktif mengelola proses belajarnya.

II. Tiga Periode Pendidikan yang Revolusioner:
Pembagian kelas tidak mengikuti standar SMP/MTs-SMA/MA, melainkan berdasarkan misi pembentukan karakter dan kompetensi: 

    1. Kelas 1-6: “Educational Period” (Masa Belajar/Mengajar, Usia 12-18 Tahun).
        • Fokus: Menanamkan pondasi kokoh pada semua materi dasar keislaman (Akhlak, Al-Qur’an, Hadits, Bahasa Arab, Fikih) dan ilmu umum (Bahasa, Sains, Sosial).
        • Pendekatan: Menggunakan konsep Ghulam. Santri berada dalam masa “dipimpin” untuk membangun disiplin dasar.
    2. Kelas 7-10: “Period of Leadership” (Masa Zu’ama/Kepemimpinan, Usia 18-22 Tahun).
        • Fokus: Pendalaman dan spesialisasi. Materi keislaman seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ushul Fikih, Balaghah, Tata Dakwah, dan Siyasah, dan penamatan membaca kitab. Ilmu umum seperti Psikologi, Sosiologi, dan Ekonomi dikaji lebih analitis.
        • Pendekatan: Menggunakan konsep Syabab. Santri memasuki masa “memimpin”. Mereka ditugaskan memimpin diskusi, membimbing adik kelas, mengorganisir kegiatan, dan memulai program riset awal. Di sini, teori mulai diuji dengan tanggung jawab praktis.
    3. Kelas 11-13: “Period of Service” (Masa Pengabdian, Usia 22-25 Tahun).
        • Fokus: Aplikasi dan kontribusi nyata. Santri mempraktikkan ilmu yang telah dikuasai dalam bidang spesifik: Bidang Pendidikan, Bidang Dakwah, atau Kepengurusan yayasan. Masa ini adalah kulminasi dari 10 tahun sebelumnya, dimana mereka menjadi bagian aktif dari sistem dengan menyelesaikan program riset/penelitian dan berkontribusi langsung pada institusi dan masyarakat.

Siklus Belajar → Memimpin → Mengabdi ini adalah jantung dari kurikulum Ma’had, yang membedakannya secara kontras dari model pendidikan “sekadar lulus ujian”.

44 Mata Pelajaran: Jaring Pengetahuan yang Menyeluruh

Untuk mewujudkan profil pemimpin multidisiplin, Ma’had merancang kurikulum yang sangat komprehensif, mencakup 44 mata pelajaran yang diajarkan secara bertahap dan terintegrasi dalam intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Mata pelajaran ini dirumpunkan menjadi: 

    1. Ushuluddin (14 Mapel): Meliputi Aqidah, Akhlak, berbagai aspek Ilmu Al-Qur’an (Tajwid, Hafalan, Terjemah, Ilmu Tafsir), Hadits (Riwayat, Dirayah, Hafalan), Fikih (Furu’ dan Ushul), hingga ilmu terapan seperti Siyasah, Tata Dakwah, dan Adab Berdebat.
    2. Sejarah (3 Mapel): Sejarah Islam, Indonesia, dan Dunia untuk membangun kesadaran kontekstual.
    3. Bahasa (9 Mapel): Penguasaan Bahasa Arab secara menyeluruh (Muhawarah, Insya’, Nahwu-Sharaf, Balaghah) serta Bahasa Inggris dan Indonesia.
    4. Psikologi & Pendidikan (4 Mapel): Ilmu Jiwa, Ilmu Pendidikan, Ilmu Mengajar, dan Praktik Mengajar, mempersiapkan santri juga sebagai pendidik.
    5. Sosiologi & Kemasyarakatan (3 Mapel): Ilmu Masyarakat, Sosiologi, dan Ilmu Rumah Tangga.
    6. Ilmu Pasti & Sains (11 Mapel): Cakupan yang sangat luas, mulai dari Falak (Astronomi), Kimia, Biologi, Pertanian, Matematika, Geografi, Ekonomi Islam, hingga Laboratorium dan Praktikum.
    7. Pendidikan Jasmani (1 Mapel).

Ekstrakurikuler dan Sarana Prasarana: Menyempurnakan Proses Tarbiyah

Agar perkembangan santri seimbang, Ma’had menyediakan beragam program ekstrakurikuler yang bersifat refreshing sekaligus pengembangan skill, seperti olahraga (beladiri, memanah, renang), seni (kaligrafi, musik), kepanduan, kewirausahaan, multimedia, klub bahasa, hingga forum kajian kitab, diskusi ilmiyah dan debat (mabhatsul masail).

Visi internasional ini juga didukung oleh infrastruktur yang dirancang untuk mendukung semua aspek pembelajaran, mulai dari Masjid, Perpustakaan, Gedung Belajar, Asrama terpisah, hingga fasilitas pendukung khusus seperti: 

    • Laboratorium Bahasa
    • Observatorium Falak (untuk ilmu falak/astronomi)
    • Laboratorium IPA
    • Gedung Multimedia
    • Area perkebunan dan peternakan sebagai laboratorium lifeskill dan ketahanan.

Jalan Menuju Internasionalisasi: Strategi dan Komitmen

Untuk mewujudkan skala internasional, kurikulum tidak hanya berhenti pada narasi. Ma’had ‘Aqu Lu El Muqoffa merancang strategi operasional yang jelas: 

    1. Integrasi Ilmu: Menyatu-padukan ushuluddin dan ilmu umum.
    2. Lingua Franca: Menjadikan Bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa pengantar dan komunikasi sehari-hari.
    3. Referensi Global: Menggunakan sumber belajar berbahasa asing.
    4. Kerjasama Ahli: Membuat MoU dan mendatangkan native speaker serta ahli dari berbagai bidang sains dan teknologi.
    5. Jaringan Global: Mensosialisasikan program ke seluruh dunia melalui media digital dan jaringan ulama (Perhimpunan Ahlul Halli wal ‘Aqdi Dunia) untuk menarik santri dari berbagai negara.
    6. Pemanfaatan Teknologi: Mengadopsi teknologi terkini dalam proses pembelajaran dan administrasi.

Penutup: Mandiri dalam Visi, Universal dalam Kontribusi

Ma’had ‘Aqu Lu El Muqoffa Al-Islamiy dengan tegas menyatakan kemandiriannya. Kurikulum 13 tahun dengan tiga periodenya adalah sebuah ekosistem pendidikan yang utuh dan otonom, tidak disamakan dan tidak berafiliasi dengan sistem pendidikan nasional atau internasional umum lainnya. Ia hadir dengan paradigma sendiri yang dibangun dari tadabbur Al-Qur’an dan Sunnah.

Pada akhirnya, “standar internasional” yang ingin dicapai bukanlah sekadar pengakuan dari badan dunia, melainkan kapasitas untuk berkontribusi dan memimpin di panggung dunia. Visinya adalah melahirkan kader-kader pemimpin asli, ilmiyah, diniyah, dan kritis sebagai “amanah generasi“, penyambung mata rantai perjuangan Islam, yang mampu memberikan solusi (Al-Hikmah) bagi permasalahan umat di mana pun mereka berada dan menjadi generasi yang dirindukan zaman. 


Keterangan: Artikel ini disusun berdasarkan dokumen konsep “Program Pendidikan Pesantren Berskala Internasional” karya Ustadz Muhammad Bardan Kindarto dan penyempurnaan oleh P3SP (Tim Perancang Pembuat Pengamat Sistem Pendidikan) Ma’had ‘Aqu Lu El Muqoffa Al-Islamiy, dilandaskan pada panduan Al-Quran dan As-Sunnah. Sebagai sebuah sistem yang hidup, kurikulum ini bersifat dinamis dan terbuka untuk terus disempurnakan oleh generasi kader Ma’had di masa depan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *