Ahad, 26 Ramadhan 1447 H/15 Maret 2026 M– Masjid Al Muttaqin di Desa Sumber Rejo, Kecamatan Pulau Rimau, bukan hanya menjadi tempat bergema lantunan Al-Quran. Di penghujung Ramadhan 1447 H, masjid ini menjadi saksi perpisahan haru antara 40 anak desa dengan para santri pengajar dari Yayasan Pendidikan dan Dakwah (YPD) AKUIS Pusat yang selama tiga pekan setia membersamai mereka.
Sore itu, Gelaran Pesantren Ramadhan Anak-Anak yang berlangsung setiap Senin hingga Rabu itu resmi ditutup. Acara yang dimulai pukul 16.00 WIB ini menjadi puncak dari rangkaian panjang petualangan belajar yang diisi dengan metode seru dan penuh keceriaan.
Sore Berhadiah di Bulan Penuh Berkah
Berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya yang sarat materi pembelajaran, penutupan kali ini terasa lebih istimewa. Dipandu Ustadzah Diah—yang sehari-hari mengabdi sebagai pengurus TPA merangkap pembawa acara.
Puluhan anak binaan Ustadzah Ratna tampak rapi berseragam. Mereka begitu bersemangat, karena saatnya menuai hasil perlombaan yang telah digelar selama Ramadhan. Ustadzah Ratna, Bukan sekadar menyampaikan sambutan, momen ini ia gunakan untuk membagikan hadiah kepada para pemenang lomba azan, sambung ayat, kaligrafi, hingga sholawat. Satu persatu nama pemenang diumumkan memecah kekhidmatan, menyemarakkan masjid. Selamat kepada para pemenang!!!
Ustadzah Ratna juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada tim pengajar yang dengan sabar membimbing anak-anak sampai akhir penutupan.
“Terima kasih tak terhingga kepada kakak-kakak santri yang telah meluangkan waktu, berbagi ilmu, dan membersamai anak-anak kami di sini, meski dalam keadaan shaum. Kalian telah menghadirkan Ramadhan yang berbeda dan penuh makna,” ucapnya.
Pesan yang Tak Lekang Waktu
Sambutan berikutnya disampaikan Ustadz Rijal, mewakili pengurus TPA. Ia menekankan pentingnya silaturahmi dan keberlanjutan ilmu.
“Kami para pengurus hanya bisa berterima kasih. Kehadiran para pengajar dari Palembang adalah oase bagi anak-anak kami di Pulau Rimau ini. Semoga tali silaturahmi ini tidak putus hanya sampai di sini,” harapnya.
Puncak acara penutupan menjadi milik Muhammad Ihsan Hibbatullah, Ketua Pelaksana yang merupakan santri Ma’had ‘Aqu-Lu eL-Muqoffa Al-Islamiy tingkat Zu’ama.
“Kami berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami untuk mengisi Ramadhan di sini,” tutur Ihsan. Ia berpesan kepada 40 anak didiknya agar ilmu yang telah didapat—mulai dari hafalan doa hingga ayat pendek—tidak hilang begitu saja dan terus diamalkan di rumah masing-masing.
Berbuka di Rumah Sederhana
Acara resmi pun ditutup dengan foto bersama antara para santri pengajar, anak-anak, serta jajaran pengurus TPA. Namun, kehangatan sore itu belum benar-benar berakhir.
Ustadzah Ratna, dengan keramahan khasnya, mengajak seluruh rombongan—pengurus TPA dan tim pengajar YPD AKUIS—untuk berbuka bersama di kediamannya. Di rumah sederhana itu, obrolan hangat dan tawa renyah mewarnai momen menjelang adzan Maghrib. Hidangan sederhana nan penuh keikhlasan tersaji, menjadi simbol bahwa kebersamaan tak pernah diukur dari kemewahan, melainkan dari ketulusan hati.
Di sinilah, di penghujung Ramadhan yang tinggal menghitung hari, tali persaudaraan antara santri kota dan masyarakat Pulau Rimau terajut erat. Bukan lagi sebagai guru dan murid, tetapi layaknya sebuah keluarga.
Cahaya yang Tak Padam
Ramadhan di Pulau Rimau tahun ini benar-benar berbeda. Jika di awal bulan para santri datang membawa cahaya ilmu melalui metode belajar sambil bermain, kisah para rasul, dan tebak-tebakan islami yang seru, kini di penghujung Ramadhan, mereka pulang membawa kehangatan hati yang tak ternilai.
Cahaya itu, meski para santri akan kembali ke Palembang, dipastikan akan terus bersinar di hati 40 anak Desa Sumber Rejo. Menemani mereka tidak hanya dalam setiap sholat dan doa, tetapi juga dalam setiap langkah mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Shalahudin Zamharir














