Di sebuah desa kecil bernama Berang, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat, terhampar sebuah kisah pengabdian yang mengharukan. Di tengah keterbatasan dan perbedaan, seorang pemuda tampil memikul amanah besar. Ia adalah Jundan Ahmad Fauzan, santri Ma’had ‘Aqu-Lu eL-Muqoffa Al-Islamiy tingkat Zu’ama, yang dipercaya sebagai Ketua Pelaksana Pesantren Ramadhan Anak-Anak (PPRA) 1447 H di Masjid Al-Mukhbitin.
Berdasarkan KEPUTUSAN PENGURUS YAYASAN No. 035/YPDA-KP/Pn.03/B.K/08.47 tentang pengkondisian khusus di bulan Ramadhan dan Syawal, Jundan bersama tiga rekannya—Raihan Nendra, Satria Ramadhan, dan Muhammad Rafa—diterjunkan ke tengah masyarakat yang sebelumnya belum pernah tersentuh program Yayasan Pendidikan dan Dakwah AKUIS. Sebuah tugas mulia yang penuh tantangan, namun dijalani dengan penuh keikhlasan.
Malam Pertama di Tengah Jama’ah Baru
Pembukaan kegiatan yang berlangsung pada Senin malam, 5 Ramadhan 1447 H / 20 Februari 2026 M, pukul 20.00 WIB di Masjid Al-Mukhbitin ini menjadi momen bersejarah. Hadir dalam acara tersebut jama’ah setempat, para panitia, dan 4 orang anak peserta pesantren. Meskipun jumlah peserta masih sedikit, semangat untuk memakmurkan rumah Allah justru terpancar kuat dari wajah para santri muda ini.
Bapak Hasrul, selaku jama’ah dan tokoh setempat, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kehadiran para santri adalah jawaban atas kegelisahannya selama ini. “Saya melihat masjid kita kurang aktif. Maka kedatangan para pemuda dari pondok pesantren El-Muqoffa ini berharap agar generasi jama’ah setempat dapat meneruskan kegiatan ini, agar masjid kita menjadi berkah bersama,” ujarnya penuh harap.
Pengakuan Jundan: Antara Tantangan dan Harapan
Saat diminta menyampaikan pesan dan kesan sebagai ketua pelaksana, Jundan Ahmad Fauzan tampil dengan perasaan campur aduk. Di hadapan para jama’ah yang baru dikenalnya, pemuda ini berbicara dengan nada rendah hati namun penuh semangat.
“Alhamdulillah, ini adalah pengalaman pertama saya dan tim terjun langsung ke hadapan masyarakat yang bukan bagian dari jama’ah yayasan AKUIS. Diamanahi untuk mendidik generasi di sini tentu bukan perkara mudah. Kami berempat, terutama saya sebagai ketua pelaksana, merasakan sendiri tantangan-tantangan yang cukup berat—mulai dari cara bergaul, perbedaan bahasa, hingga kebiasaan sehari-hari yang sangat berbeda dengan apa yang biasa kami jalani di pondok.”
Namun, di balik semua tantangan itu, Jundan menegaskan komitmennya. “Dengan segala perbedaan itu, saya berharap kegiatan yang kami selenggarakan hingga ke tempat yang jauh ini benar-benar membawa manfaat bagi generasi setempat. Saya tidak meminta balasan dunia, hanya berharap semoga ini menjadi amal jariyah yang terus mengalir untuk kami dan untuk kita semua. Aamiin.”
Demikianlah kiranya keikhlasan dan ketulusan para santri muda ini menyentuh hati dan perasaan.
Belajar, Bermain, dan Tumbuh dalam Cahaya Ramadhan
Selama bulan Ramadhan, setiap hari mulai pukul 13.00 hingga 14.30 WIB, Jundan dan ketiga rekannya akan membimbing 4 anak peserta dengan penuh kesabaran. Mereka akan mengajarkan berbagai materi keislaman, seperti:
- Hafalan Al-Quran
- Do’a Sehari-hari
- Mengenal Sifat-sifat Allah
- Mengenal Nama-nama Malaikat dan Tugasnya
- Kisah-kisah Para Rasul Terdahulu
- Bahasa Arab dan Inggris
Yang membuat kegiatan ini istimewa, semua materi akan disampaikan dengan metode belajar Al-Quran dan Iqro yang kreatif—bercerita, menulis, dan bermain—agar anak-anak tetap ceria dan tidak merasa terbebani.
Sepenggal Kisah di Ujung Pelosok
Kisah Jundan dan tiga timnya ini adalah bukti nyata bahwa dakwah tidak selalu tentang jumlah massa yang banyak. Kadang, nilai sebuah pengabdian justru terletak pada keikhlasan melangkah ke tempat yang jauh, menghadapi perbedaan, dan tetap teguh mendidik meski hanya empat orang anak.
Di Masjid Al-Mukhbitin yang sunyi, kini mulai terdengar kembali lantunan Al-Quran dan tawa riang anak-anak. Melalui tangan-tangan muda yang ikhlas, cahaya Ramadhan mulai menyinari Desa Berang, membawa berkah yang tak ternilai bagi semua. Semoga menjadi amal jariyah, wahai para pejuang.
Raihan Nendra












