Masjid Al Mauidzoh, Kelompok Kajian binaan YPD AKUIS Cabang Prabumulih di Desa Marga Mulya, Dusun 3, Kecamatan Rambang, Kabupaten Muara Enim, pada Selasa, 21 Ramadhan 1447 H / 10 Maret 2026, setelah 15 hari penuh kehangatan dan pembelajaran, kegiatan Pesantren Ramadhan Anak-Anak (PPRA) Tahun 1447 H resmi ditutup.
Acara penutupan yang berlangsung pukul 16.00 hingga 17.00 WIB ini menjadi momentum istimewa yang tidak hanya menandai berakhirnya kegiatan belajar mengajar, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa pemuda tangguh Yayasan Pendidikan dan Dakwah AKUIS siap ditempatkan di mana saja untuk menyiarkan dakwah Islam, bahkan hingga ke pelosok desa.
Dedikasi Pemuda: Dari Ma’had ke Pelosok Desa
Kegiatan yang berlangsung sejak 6 Ramadhan ini menjadi saksi perjuangan para pemuda tangguh binaan YPD AKUIS. Sepuluh orang pengajar muda yang sebagian besar merupakan santri Ma’had ‘Aqu-lu el-Muqoffa al-Islamiy dengan penuh keikhlasan mengabdikan diri di Desa Marga Mulya. Mereka adalah Nurul Al Paril, Muhammad Fahri Nur Romadhon, Muhammad Haunan Al Qisthi, Nur Fadila, Siti Khoiriyah, Umi Lailatul Hasanah, Arsinta Lidiana Sari, Annisa Rahma, Khoirun Nisa, dan Bima Gafara.
Kehadiran mereka membuktikan bahwa pemuda AKUIS tidak hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga memiliki jiwa pengabdian yang tinggi, siap ditempatkan di medan dakwah mana pun, baik di perkotaan maupun di pelosok desa seperti Marga Mulya.
Apresiasi dan Harapan dari Tokoh Setempat
Acara penutupan diawali dengan pembukaan oleh Muhammad Khairil Ihsan yang bertindak sebagai MC. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan dan kelancaran hingga acara penutupan dapat terselenggara dengan baik.
Ketua Pelaksana, Muhammad Khoiril Ihsan, dalam sambutannya menyampaikan laporan singkat perjalanan kegiatan selama 15 hari. “Yang pastinya kami haturkan ucapan syukur dan terima kasih yang tak terhingga kepada pengurus yang berkesempatan hadir, para guru, dan juga anak-anak hebat semua. Tanpa kekompakan satu sama lain, acara ini pasti tidak akan berjalan dengan lancar. Ini adalah bukti bahwa kerja sama tim adalah kunci keberhasilan dakwah,” demikian ujarnya.
Kehadiran pengurus setempat, Ustadz Yudi Susanto, menjadi penanda pentingnya dukungan masyarakat terhadap kegiatan ini. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para guru yang telah berpartisipasi dan sangat kompak dalam kegiatan PPRA ini.
“Saya sangat berterima kasih kepada Yayasan AKUIS pusat yang telah mengirimkan santri-santrinya ke desa kami. Ini sangat membantu dalam kegiatan PPRA kali ini. Terbukti bahwa pemuda-pemuda AKUIS adalah pemuda tangguh yang siap ditempatkan di mana saja untuk menyiarkan dakwah Islam,” ungkap Ustadz Yudi Susanto dalam kesan dan pesannya.
Beliau juga menyampaikan pesan kepada anak-anak yang selalu semangat hingga acara penutupan. “Harapan saya, kiranya kegiatan ini terus dilaksanakan di tahun-tahun yang akan datang dan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Apa yang sudah dipelajari selama pesantren Ramadhan ini hendaknya dapat diambil manfaatnya untuk menjadi bekal di kemudian hari.”
Bukti Nyata: 24 Anak Marga Mulya Siap Melanjutkan Perjuangan
Selama 15 hari, sebanyak 24 anak usia 5 hingga 12 tahun dari kalangan jama’ah setempat telah dibekali dengan berbagai materi keislaman yang komprehensif. Mulai dari hapalan Al-Quran, doa sehari-hari, praktik sholat, hingga pengenalan sifat-sifat Allah, nama-nama malaikat, kisah para sahabat Rasul, para rasul terdahulu, serta pembelajaran bahasa Arab dan Inggris.
Acara penutupan yang berlangsung khidmat ini diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai kenang-kenangan, dilanjutkan dengan buka bersama. Momen kebersamaan ini semakin mempererat ukhuwah Islamiyah antara para pengajar muda, anak-anak, pengurus, dan jama’ah setempat.
Pemuda Tangguh, Dakwah Tak Kenal Lelah
Kegiatan Pesantren Ramadhan Anak di Desa Marga Mulya ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Islam, khususnya para santri Ma’had ‘Aqu-lu el-Muqoffa al-Islamiy binaan YPD AKUIS, adalah pemuda tangguh yang siap ditempatkan di mana saja. Mereka tidak hanya mencari ilmu di bangku ma’had, tetapi juga mengamalkannya langsung di tengah-tengah masyarakat.
Dengan semangat pengabdian yang tinggi, para pemuda ini telah membuktikan bahwa dakwah Islam dapat dilakukan di berbagai tempat, dari pusat kota hingga pelosok desa. Mereka adalah harapan umat yang akan meneruskan perjuangan dalam menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Semoga semangat ini terus berkobar, dan lahir lebih banyak lagi pemuda tangguh yang siap menerangi dunia dengan cahaya Al-Quran dan dakwah Islam.
Siti Khoiriyah














