Ramadhan 1447 H semakin terasa di Kabupaten Empat Lawang. Yayasan Pendidikan dan Dakwah (YPD) AKUIS Cabang Empat Lawang resmi membuka kegiatan Pesantren Ramadhan Anak-Anak yang berlangsung mulai 8 hingga 24 Ramadhan 1447 H (25 Februari – 13 Maret 2026 M). Bertempat di Auditorium dan Masjid komplek YPD AKUIS Cabang Kabupaten Empat Lawang, kegiatan ini menjadi momentum bagi 17 anak usia 5 hingga 17 tahun dari anak-anak jama’ah di berbagai daerah setempat.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi wadah pembentukan karakter Islami sejak dini. Berdasarkan Keputusan Pengurus Yayasan No. 035/YPDA-KP/Pn.03/B.K/08.47, kegiatan ini dirancang khusus untuk mengkondisikan generasi muda agar produktif selama bulan Ramadhan.
Pembukaan Penuh Hikmah: Antara Wahyu dan Kewajiban Menuntut Ilmu
Pembukaan yang dilaksanakan pada Rabu, 8 Ramadhan, dipandu oleh Ibrahim Benzema, santri Ma’had Kelas 5. Suasana semakin khidmat saat Ketua Pelaksana, Indrajid Ar’rad Qofid—santri Ma’had ‘Aqu-Lu eL-Muqoffa Al-Islamiy Kelas 5—menyampaikan sambutannya. Dengan lantang, ia membacakan QS. Al-‘Alaq ayat 1-5 yang merupakan wahyu pertama tentang perintah membaca, serta hadits Rasulullah SAW, “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin” (Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim).
“Pemuda adalah pilar masa depan umat. Maka, menuntut ilmu, terlebih ilmu Islam, adalah fondasi yang tidak bisa ditawar,” ujar Indrajid.
Puncaknya, sambutan sekaligus pengesahan kegiatan secara resmi dilakukan oleh Ketua YPD AKUIS Cabang Empat Lawang, Ustadz Zakaria. Dalam tausiyahnya, beliau menanamkan motivasi mendalam kepada anak-anak bahwa belajar itu kewajiban seumur hidup. “Jangan pernah lelah belajar, karena ganjaran bagi mereka yang sungguh-sungguh mempelajari ilmu Islam adalah surga-Nya Allah,” tegas Ustadz Zakaria yang disambut antusiasme para hadirin.
Materi Terpadu: Dari Tahfizh hingga Bahasa, Dengan Improvisasi Kreatif
Pesantren Ramadhan ini dirancang padat dan aplikatif. Para peserta dibekali dengan:
- Hapalan Al-Qur’an
- Do’a Sehari-hari
- Praktik Sholat
- Mengenal Sifat-sifat Allah
- Mengenal Nama-nama Malaikat dan Tugasnya
- Mengenal Para Sahabat Rasul
- Kisah Para Rasul Terdahulu
- Bahasa Arab dan Inggris, serta materi penunjang lainnya.
Menariknya, untuk peserta usia 12 hingga 17 tahun (setara remaja), materi yang sama disampaikan dengan metode improvisasi dari para pengajar. Pendekatan ini membuat diskusi lebih hidup, kontekstual dengan kondisi masa kini, dan tidak monoton—sejalan dengan prinsip pendidikan modern yang tetap berpegang pada nilai dakwah salaf.
Tim Pengajar: Kolaborasi Generasi Muda Islam
Kegiatan Pesantren Ramadhan ini tidak terlepas dari peran aktif para pengajar muda yang berdedikasi. Mereka adalah:
- Indrajid Ar’rad Qofid
- Ibrahim Benzema
- M. Khalid
- Abimanyu Achmad Qofid
- Arimbi Ar’rad Qofid
Kehadiran mereka menjadi energi baru dalam proses pembelajaran, menghadirkan metode yang variatif dan menyenangkan bagi para peserta.
Jejak Juang Muhammad Khalid: Bukti Pengabdian Lulusan Ma’had
Di balik suksesnya pendampingan kegiatan ini, terdapat kisah inspiratif dari seorang Muhammad Khalid. Ia adalah salah satu lulusan Ma’had ‘Aqulu eL-Muqoffa Al-Islamiy Angkatan ke-2 Tahun 1446 H. Dalam program pengabdian masyarakat, Muhammad Khalid ditugaskan secara khusus untuk terjun langsung berdakwah dan mendampingi pengurus di YPD AKUIS Cabang Empat Lawang.
“Kami sangat berharap, akan lebih banyak lagi kiriman pemuda-pemuda tangguh dari Ma’had untuk turun mengajar di tengah masyarakat. Ini bukan hanya pengabdian, tapi juga bekal pengalaman berharga bagi kami,” ujar Muhammad Khalid dengan penuh semangat.
Kesan mendalam pun dirasakannya selama berinteraksi dengan para peserta. “Kami sangat terharu. Melihat anak-anak datang dari jarak yang jauh, namun tetap hadir dengan wajah bersemangat dan hati yang riang. Sungguh, pemandangan yang menyejukkan hati,” tambahnya, menggambarkan betapa dahsyatnya kecintaan generasi pedesaan terhadap majelis ilmu.
Kegiatan yang berlangsung setiap sore, Ba’da Ashar hingga menjelang berbuka puasa ini, diharapkan mampu mencetak generasi qurani yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual. Dengan kolaborasi antara yayasan pusat, cabang, para santri, dan pemuda pengajar seperti Muhammad Khalid, sinar dakwah di Bumi Sumatera Selatan terus dinyalakan.
Abimanyu Ahmad Qofid












