Masjid Al-Muttaqin, Dusun 3 Sukarela, 27 Ramadhan 1447 H/15 Maret 2026 – malam itu adalah penutupan Pesantren Ramadhan Anak-Anak (PPRA) perdana di Kelompok Kajian Dusun 3 Sukarela, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin. Acara yang berlangsung selepas sholat tarawih berjama’ah hingga pukul 22.00 WIB ini menjadi puncak dari rangkaian kegiatan selama bulan Ramadhan yang telah dilalui oleh 24 santri anak-anak dengan penuh semangat.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Urusan Khusus Kepemudaan YPD AKUIS Pusat ini merupakan jawaban atas kerinduan warga Dusun 3 Sukarela yang telah bertahun-tahun menanti hadirnya program pembinaan generasi muda di lingkungan mereka. Dan kini, setelah berjalan selama sebulan penuh, tibalah saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal—setidaknya untuk tahun ini.
Pembukaan yang Sarat Makna
Acara penutupan dipandu oleh Ustadz Bardan Zainuddin, salah satu santri Ma’had ‘Aqu-Lu eL-Muqoffa Al-Islamiy kelas 6. Dibuka dengan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, ia kemudian menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada seluruh jama’ah setempat.
“Kami para panitia yang bertugas di sini selama bulan Ramadhan benar-benar merasakan sambutan hangat dari warga Dusun 3 Sukarela. Terima kasih kepada para wali murid yang telah menyempatkan waktu untuk hadir di acara penutupan ini. Kebersamaan ini akan selalu kami kenang,” demikian tertulis dalam laporan untuk mengawali acara.
Suasana malam itu terasa istimewa. Anak-anak dengan pakaian rapi duduk bersama, sementara para panitia dan pengurus dusun tampak bersemangat meskipun tersirat rasa haru karena kegiatan akan segera berakhir.
Muhammad Rusdan Baldan: Semoga Membekas di Hati Anak-Anak
Sebagai ketua pelaksana yang telah memimpin jalannya PPRA sejak hari pertama, Muhammad Rusdan Baldan menyampaikan sambutan singkat namun penuh makna. Ia mengungkapkan harapan terdalamnya.
“Selama sebulan kita bersama-sama belajar, bermain, dan beribadah. Kami para ustadz hanya bisa berusaha memberikan yang terbaik. Semoga apa yang telah kami sampaikan selama ini dapat membekas di hati anak-anak kita, menjadi cahaya yang menerangi langkah mereka di masa depan,” tuturnya.
Ustadz Adi Rianto: Ilmu Itu Jika Tidak Dicari, Maka Hendaknya Diajarkan
Puncak sambutan sekaligus momen yang paling mengharukan datang dari Ustadz Adi Rianto, selaku pengurus setempat yang juga bertindak menutup kegiatan secara resmi. Dalam kata sambutannya, beliau menyelipkan sebuah pesan yang langsung menusuk relung hati para hadirin.
“Ilmu itu jika tidak dicari, maka hendaknya diajarkan.”
Kalimat sederhana itu seketika membuat suasana hening. Ustadz Adi Rianto menjelaskan makna di balik pesan tersebut.
“Kami para pengurus dusun sangat bersyukur atas kehadiran para ustadz dari pusat. Kehadiran kalian mengingatkan kami akan kewajiban terhadap ilmu ini—bahwa ilmu bukan hanya untuk disimpan, tetapi untuk disebarkan, terutama kepada anak-anak yang belum mendapatkannya. Karena itu, kami berharap kegiatan Pesantren Ramadhan ini tidak berhenti di tahun ini saja. Semoga dapat berlanjut di tahun-tahun berikutnya, menjadi tradisi baik yang terus dipelihara,” ungkapnya penuh harap.
Pesan ini menjadi penegas bahwa tugas mendidik adalah tanggung jawab bersama, dan kebersamaan yang terbangun selama Ramadhan adalah modal berharga untuk keberlanjutan program di masa mendatang.
Apresiasi Manis untuk Anak-Anak
Meskipun acara penutupan tidak diisi dengan pembagian hadiah lomba seperti di tempat lain, para panitia dan jama’ah tetap menyiapkan kejutan istimewa. Sebagai bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih kepada anak-anak yang telah berpartisipasi dengan penuh semangat selama sebulan, para panitia dan jama’ah berinfaq bersama untuk membeli snack dan makanan ringan yang tentunya halal dan thayyibah.
Sebelum acara dimulai, anak-anak dan jama’ah yang hadir sudah disambut dengan makanan ringan tersebut. Wajah-wajah ceria tak terbendung saat mereka menerima bingkisan sederhana namun penuh makna ini. Kebahagiaan anak-anak menjadi penutup yang sempurna untuk rangkaian kegiatan PPRA perdana di Dusun 3 Sukarela.
Penutup: Mengabadikan Momen Bersejarah
Acara yang berlangsung khidmat dan penuh kehangatan ini diakhiri dengan sesi foto bersama. Seluruh peserta, para ustadz/ustadzah, pengurus dusun, dan jama’ah yang hadir berpose bersama di Masjid Al-Muttaqin. Momen ini diabadikan sebagai kenang-kenangan atas terselenggaranya Pesantren Ramadhan Anak-Anak perdana di dusun tersebut—sebuah langkah awal yang diharapkan menjadi fondasi bagi generasi-generasi mendatang.
Bagi warga Dusun 3 Sukarela, PPRA 1447 H bukan sekadar agenda tahunan. Ini adalah awal dari sebuah perjalanan. Perjalanan untuk terus membina generasi muda dengan nilai-nilai Islam, perjalanan untuk menjaga ilmu agar terus diajarkan, dan perjalanan untuk mempererat ukhuwah antara pusat dan daerah.
Refleksi: Lebih dari Sekadar Kegiatan
Penyelenggaraan PPRA perdana di Dusun 3 Sukarela mengajarkan banyak hal:
- Kesabaran para pengurus dusun yang bertahun-tahun menanti hingga akhirnya terkabul
- Keikhlasan para ustadz utusan pusat yang meninggalkan kenyamanan untuk mengabdi di daerah
- Kerinduan anak-anak akan pembelajaran Islam yang menyenangkan
- Kebersamaan jama’ah yang bahu-membahu menyukseskan program
Dan yang paling berharga, sebuah pesan sederhana yang akan selalu diingat: “Ilmu itu jika tidak dicari, maka hendaknya diajarkan.” Pesan yang menjadi pengingat bagi kita semua bahwa ilmu bukan hanya untuk dimiliki, tetapi untuk diamalkan dan diwariskan.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan berakhirnya PPRA 1447 H di Dusun 3 Sukarela, terbuka lembaran baru bagi generasi muda di sana. Semoga semangat yang telah terbangun selama Ramadhan terus menyala di bulan-bulan berikutnya. Semoga silaturahmi antara pengurus pusat dan jama’ah dusun tetap terjalin. Dan semoga di Ramadhan tahun depan, kita bisa berkumpul kembali dalam lingkaran ilmu yang lebih hangat dan lebih besar.
Muhammad Irsyad Zamharir













