YPD AKUIS PUSAT — Ratusan pasang mata saksi perjuangan tak mampu membendung air mata saat sebelas santri kelas 6 secara resmi dilepas statusnya sebagai santri Tarbiyatul Awaliyah ‘Aqu-Lu el-Muqoffa. Momentum ini tersaji dalam acara Pelepasan Santri Tahun Pelajaran 1447 H yang digelar di gedung auditorium pusat pada Sabtu, 6 Dzulhijjah 1447 H / 23 Mei 2026 M.
Acara yang dipandu oleh duet MC cilik kelas 5, Jalaludin Ahmad dan Fatimah Azzahra, awalnya berlangsung ceria. Gemuruh tepuk tangan dan tawa hadirin sempat pecah saat menyaksikan kelincahan gerak Tari Kepanduan “Kasyfiyah Tarbiyatul Awaliyah” yang memegang bendera di kedua tangan, disusul kepolosan santri kelas 1 yang berhitung dalam bahasa Arab dan Inggris—sebuah bukti keberhasilan kurikulum penguasaan bahasa asing yang diterapkan lembaga. Riuhnya penampilan pantun bersambut khas kelas 6 pun semakin menyemarakkan suasana auditorium.
Namun, roda emosi bergulir seketika saat petuah-petuah bermakna mulai disampaikan dari atas mimbar.
Pesan Mendalam dari Balik Mimbar
Mudir Tarbiyatul Awaliyah, Ustadz Heriyanto, didampingi Wakil Mudir M. Abdul Malik Al-Izza beserta jajaran Mudaris dan Mudarisah tampak memandang sebelas lulusan tersebut dengan tatapan bangga sekaligus haru.
Dalam sambutannya, Ustadz Heriyanto memberikan pesan penyejuk yang menghujam jantung para alumni muda.
“Ilmu itu bukan seberapa banyak yang dihafal dan didapat, tetapi ia baru akan bermanfaat jika kalian mengamalkan apa yang dipelajari di Tarbiyatul Awaliyah. Di mana pun kalian berada setelah ini, jangan pernah tinggalkan sholat. Dirikan ia karena kesadaran diri dan rasa terpanggil, bukan karena takut ditanya guru,” tutur Mudir penuh takzim.
Ketua YPD AKUIS Pusat, Bapak Edi Priadi, turut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada orang tua santri dan para pengajar yang seluruhnya merupakan jama’ah YPD AKUIS. Beliau menyebut kerelaan meninggalkan gemerlap dunia luar demi mendidik anak-anak di sini sebagai nilai lebih yang luar biasa hebat. “Anak-anak inilah yang kelak akan menggantikan kita yang sudah tua-tua ini,” ungkap beliau penuh harap.
Suasana Haru di Atas Mimbar
Usai petuah-petuah berharga dari para guru dan pimpinan yayasan selesai disampaikan, suasana auditorium mendadak hening. Keheningan yang menyentuh hati seisi ruangan terasa semakin dalam saat perwakilan santri kelas 6, Ahmad Fazza Al Wafid, melangkah maju ke depan mimbar.
Dengan nada polos, ia menyampaikan untaian terima kasih atas kesabaran para guru yang telah membimbing mereka dengan ikatan emosional yang kuat selama 6 tahun melalui sistem guru kelas. Suasana menjadi sangat mengharukan saat Fazza menyelipkan kenangan tentang almarhumah ibundanya.
“Ini adalah harapan almarhumah ibu saya… Ibu yang sangat berharap agar anaknya dididik di Tarbiyatul Awaliyah ini,” ucap Fazza terbata-bata.
Tangis auditorium tak lagi terbendung ketika Bapak Nyono, perwakilan wali santri kelas 6, memberikan sambutan. Sambil meneteskan air mata kebahagiaan, beliau menyampaikan rasa terima kasih mendalam dan menegaskan kesiapan wali santri untuk menyambung estafet pendidikan anak-anak mereka. Beliau berkomitmen melanjutkan putra-putrinya ke Ma’had ‘Aqu-Lu el-Muqoffa Al-Islamiy, sebagai program utama yayasan yang harus didukung sepenuhnya.
Mahkota Penghafal Al-Qur’an dan Kesinambungan Dakwah
Momen selanjutnya adalah Acara Utama yang dipandu oleh Ustadz Abdul Malik Al-Izza, yaitu penyerahan rapot kelulusan dan prosesi wisuda tahfiz Juz 30 kepada 11 santri. Di antara para penghafal tersebut, tiga santri dinobatkan sebagai yang terbaik, yaitu M. Farid Al Qishthi, Rieha Fardanah Labibah, dan Ahmad Fazza Al Wafid.
Pembina Yayasan AKUIS, Ustadz Arbani, dalam tausiyahnya mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian ilmu dan iman yang telah dipupuk di sekolah berfasilitas lengkap ini—mulai dari lingkungan masjid, perpustakaan, hingga ruang kelas tempat mereka belajar sehari-hari. Beliau mengibaratkan hafalan Al-Qur’an layaknya seekor kambing di ladang yang harus rajin ditengok (di-muraja’ah) agar tidak hilang. Ustadz Arbani juga menyampaikan rencana strategis yayasan untuk mendirikan Tarbiyatul Awaliyah di cabang-cabang pada masa depan sebagai agenda utama di bidang pendidikan.
Sebelum acara ditutup, sebuah persembahan lagu dari kelas 6 berjudul “Terima Kasih Guruku” dan “Selamat Tinggal Guru dan Kawanku” menjadi puncak keharuan. Dinyanyikan secara syahdu oleh para santri yang saling merangkul, lagu tersebut sukses mengunci air mata seluruh hadirin.
Langkah sebelas santri di jenjang dasar ini memang telah usai, namun pondasi kokoh yang telah tertanam siap mengawal mereka melangkah pasti menuju Ma’had. Di jenjang lanjutan inilah mereka akan ditempa untuk mewujudkan motto utama Ma’had, yaitu menjadi sosok “Pemimpin Asli, Ilmiah, Diniyah, dan Kritis.” Kesebelas lulusan ini kelak menjadi anak panah yang siap dilesatkan dari busurnya, bersiap menjadi pemandu umat yang tangguh di masa yang akan datang.
Muhammad Ardan Jauhari
















